WhatsApp Icon

Berita Terkini

Terima Kasih Muzakki, Zakat Kita Membantu Adinda Wulan Melanjutkan Pengobatan
Terima Kasih Muzakki, Zakat Kita Membantu Adinda Wulan Melanjutkan Pengobatan
Bandar Lampung (Selasa, 11 Agustus 2026), BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui program bidang kesehatan menyalurkan bantuan untuk warga Kota Bandar Lampung yang membutuhkan bantuan pengobatan lebih lanjut dimana pengobatan tersebut belum dicover secara menyeluruh oleh BPJS Kesehatan. Salah satunya adalah Adinda Wulan (22 tahun), pasien yang mengidap celebral palsy (CP) dimana kondisi tubuh pasien tidak tumbuh seperti usia pada umumnya. Pasien membutuhkan pengobatan lebih lanjut dengan membutuhkan terapi secara rutin setiap minggu melalui fisioterapi motorik di salah satu Rumah Sakit di Kota Bandar Lampung. Melalui program bidang kesehatan ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung membantu biaya operasional pasien untuk mengurangi beban biaya yang dibutuhkan setiap minggu untuk melakukan fisioterapi motorik. Penyaluran bantuan ini diserahkan secara langsung oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui Kepala Sekretariat, Doni Peryanto,S.Pi mewakili Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H. Ismail Saleh, S.Hi., M.H. Penyaluran bantuan diterima secara langsung oleh pasien dengan didampingi oleh orang tua pasien. "Terima kasih BAZNAS Kota Bandar Lampung, terima kasih para donatur atas bantuannya ini untuk pengobatan ananda kami. semoga berkah dan berlimpah rezekinya untuk para donatur dan BAZNAS Kota Bandar Lampung. semoga ananda kami kondisi kesehatannya semakin membaik " ucap Ibu Roha Yati, Orang tua pasien. BAZNAS Kota Bandar Lampung mengucapkan terima kasih kepada para Muzakki para donatur yang sudah menyalurkan zakat infak sedekahnya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung. Zakat Infak Sedekah kita sangat membantu BAZNAS Kota Bandar Lampung dalam program-program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan dengan disalurkan kepada para mustahik yang tersebar di Kota Bandar Lampung. Mari salurkan zakat infak sedekah terbaiknya melalui : Bank BSI 372.777.0075 Bank Mandiri 114.00.1242.3144 Bank Lampung 380.03.04.99000.6 Bank BCA Syariah 066.300.6666 Bank Waway 001.10.005.22 An. BAZNAS Kota Bandar Lampung Atau bisa melalui Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung jl. Basuki Rahmat No.26, Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Kota Bandar lampung. Bisa menghubungi nomor layanan 08117911126 BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
11/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Perkuat Kesadaran Berzakat, BAZNAS Kota Bandar Lampung Memberikan Pembekalan Kepada Peserta Magang UIN Raden Intan Lampung
Perkuat Kesadaran Berzakat, BAZNAS Kota Bandar Lampung Memberikan Pembekalan Kepada Peserta Magang UIN Raden Intan Lampung
Dalam rangka memperkuat sosialiasi dan edukasi dalam mengeluarkan zakat infak dan sedekah di Kota Bandar Lampung, BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Cahyo Prabowo,S.P melakukan pembekalan materi dan diskusi kepada peserta Magang dari UIN Raden Intan Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 14 mahasiswa. Pemberian materi dan diskusi ini untuk memperkuat ilmu, pemahaman dan mental para peserta Magang sebelum terjun ke lapangan untuk memberikan sosialiasi dan edukasi kepada masyarakat khususnya di Kota Bandar Lampung agar kesadaran membayar zakat infak dan sedekah terus meningkat guna memberikan manfaat yang lebih banyak bagi para mustahik. Diharapkan pada kesempatan ini bisa memberikan pengalaman bagi peserta Magang sebelum nantinya memasuki dunia pasca kampus yang harus berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat. BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
10/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
BAZNAS Kota Bandar Lampung Sambut Peserta KKN UIN Raden Intan Lampung Perkuat Edukasi dan Literasi Zakat
BAZNAS Kota Bandar Lampung Sambut Peserta KKN UIN Raden Intan Lampung Perkuat Edukasi dan Literasi Zakat
Bandar Lampung (Senin, 03 Agustus 2026) BAZNAS Kota Bandar Lampung menerima peserta KKN UIN Raden Intan Lampung yang tergabung dalam program KKN Magang secara serentak dari UIN Raden Intan Lampung yang ditempatkan di beberapa Instansi lembaga yang ada di Kota Bandar Lampung, salah satunya adalah BAZNAS Kota Bandar Lampung. Penerimaan peserta KKN UIN Raden Intan Lampung ini berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung jl. Basuki Rahmat, no.26, Sumur Putri, Teluk Betung Selatan. Adapun peserta KKN UIN Raden Intan Lampung ini berjumlah 8 orang yang berasal dari Program Studi Manajemen Dakwah dan juga dari Program Studi Sistem Informasi. Pada kesempatan ini, penerimaan peserta KKN UIN Raden Intan Lampung disambut secara langsung oleh para pimpinan BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H.Ismail Saleh, S,H.i,M.H (Ketua), Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd.I (Wakil Ketua I), Cahyo Prabowo, S.P (Wakil Ketau II). H. Rusdi Said, S.E (Wakil Ketua III), dan H.M.Ruslan Ali (Wakil Ketua IV) serta didampingi oleh Doni Peryanto, S.Pi, selaku Kepala Pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung. "Kami menyambut baik program sinergi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, salah satunya dengan UIN Raden Intan Lampung. diharapkan sinergi ini bisa memberikan manfaat kedua lembaga, khususnya bagi peserta KKN untuk bisa menambah pengalaman, berbagi ilmu dari kampus serta bisa meningkatkan edukasi literasi ZIS dan kesadaran berzakat di Kota Bandar Lampung" tambah Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H. Ismail Saleh, S.H.i,M.H Tidak hanya sebatas menerapkan ilmu dari kampus, para mahasiswa juga diharapkan bisa memberikan masukan dan program yang lebih baik lagi untuk bisa diterapkan di BAZNAS Kota Bandar Lampung, sehingga bisa memberikan manfaat antara kedua lembaga. Program KKN ini akan menjadi bekal bagi Mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja pasca lulus dari UIN raden intan lampung "Terima kasih kami sampaikan kepada BAZNAS Kota Bandar Lampung, karena sudah mau dan bisa menerima mahasiswa KKN kami dari UIN raden intan lampung. diharapkan anak-anak kami bisa memberikan manfaat dan mampu memberikan masukan untuk kebaikan lembaga. ini akan menjadi modal awal mereka sebelum memasuki dunia kerja " tutup Septi Anggraini, selaku Dosen Pendamping Lapangan UIN Raden Intan Lampung. BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
04/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung

Artikel Terbaru

Nabi Ismail dan Air Zamzam: Dari Sekadar Harapan Menjadi Sumber Kehidupan
Nabi Ismail dan Air Zamzam: Dari Sekadar Harapan Menjadi Sumber Kehidupan
Setelah sekian lama menanti, Nabi Ibrahim as akhirnya dianugerahi seorang putra dari Siti Hajar, yang diberi nama Ismail. Kehadiran Ismail adalah kebahagiaan yang lama dinantikan. Namun kebahagiaan itu segera diuji oleh perintah Allah yang tidak mudah dijalankan oleh hati seorang ayah. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah yang jauh, asing, dan tandus, lembah yang tidak berpenghuni, tidak ada air, dan tidak ada kehidupan. Lembah itu kelak dikenal sebagai Makkah. Dengan penuh kepatuhan, Ibrahim menjalankan perintah itu. Ia menempatkan Hajar dan Ismail di sana, hanya dengan bekal yang sangat terbatas. Setelah itu, ia berbalik hendak kembali ke negeri Syam. Melihat Ibrahim pergi, Siti Hajar pun berlari mengejarnya. Dengan suara yang penuh kegelisahan, ia memegang pakaian suaminya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa ini?” Ia mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Namun Ibrahim tidak menoleh, karena jika ia menoleh, mungkin hatinya akan goyah. Akhirnya, dengan nada yang lebih dalam, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab singkat, “Ya.” Seketika itu, kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Dengan keyakinan penuh, Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.” Inilah kalimat tauhid yang hidup—bukan sekadar diucapkan, tetapi benar-benar diyakini. Hajar pun kembali, sementara Ibrahim melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tempat yang sudah tidak terlihat oleh keluarganya, Ibrahim berhenti, menghadap ke arah Baitullah, dan berdoa dengan penuh harap: “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37) Hari demi hari berlalu. Bekal yang sedikit itu pun habis. Rasa lapar dan haus mulai mencekik. Tangisan bayi Ismail pecah, bukan tangisan biasa, tetapi tangisan seorang bayi yang kehausan. Air susu ibunya pun telah kering. Melihat anaknya meronta, hati Hajar hancur. Namun ia tidak menyerah. Ia berlari menuju bukit Shafa, berdiri di sana, memandang ke seluruh penjuru dengan harapan ada seseorang yang bisa menolong. Namun tidak ada siapa pun. Ia turun, lalu berlari menuju bukit Marwah. Ia melihat lagi, tetap tidak ada. Ia kembali lagi ke Shafa. Lalu ke Marwah. Bolak-balik, penuh harap, penuh cemas. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi tujuh kali. Itulah ikhtiar seorang ibu. Ikhtiar yang lahir dari cinta dan iman. Ketika ia kembali ke tempat Ismail, sebuah keajaiban terjadi. Dari dekat kaki bayi Ismail, tiba-tiba memancar air. Malaikat Jibril as menghentakkan sayapnya, memunculkan mata air dari tanah yang kering. Air itu mengalir. Hajar pun bergegas mendekat, menampung dan menahan air itu sambil berkata: “Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah… berkumpullah…) Sejak saat itu, air itu dikenal dengan nama Zam-zam, air yang terus mengalir, tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan di tanah yang sebelumnya mati. Dari setetes air itulah, sejarah besar bermula. Lembah tandus itu berubah menjadi tempat yang hidup. Orang-orang mulai datang. Peradaban tumbuh. Dan kelak, di sanalah berdiri kota suci Makkah, pusat ibadah umat Islam hingga akhir zaman. Peristiwa agung ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji. Apa yang dilakukan Siti Hajar menjadi syariat yang dijalankan oleh jutaan kaum muslimin. Rasulullah saw bersabda: “Dari sinilah manusia melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.” (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain: “Lakukanlah sa’i, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR. Ahmad, hasan) Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”(QS. Al-Baqarah: 158) Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bukan hanya fragmen sejarah yang dibaca untuk dikenang, tetapi cermin kehidupan, tentang bagaimana iman diuji, bagaimana harapan dipertahankan, dan bagaimana pertolongan Allah datang pada saat yang paling genting. Di balik kisah ini, kita melihat betapa beratnya ujian yang dipikul oleh Nabi Ibrahim as. Seorang ayah yang sekian lama menanti kehadiran anak, justru harus rela berpisah ketika kebahagiaan itu baru saja ia rasakan. Bukan sekadar berpisah, tetapi meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang, dalam pandangan manusia, sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Tidak ada air. Tidak ada manusia. Tidak ada harapan, jika dilihat dengan mata lahir. Namun di situlah letak ujian kepatuhan. Ibrahim tidak membantah. Ia tidak menawar. Ia tidak menunda. Karena bagi seorang hamba sejati, ketika Allah memerintah, maka taat adalah satu-satunya jawaban. Dan yang lebih menggetarkan, ujian itu tidak hanya milik Ibrahim. Siti Hajar pun mengalaminya. Sebagai seorang ibu, nalurinya menolak untuk ditinggalkan. Itu sangat manusiawi. Ia bertanya, ia gelisah, ia mengejar. Tetapi ketika ia tahu bahwa semua ini adalah perintah Allah, maka sikapnya berubah total. Dari cemas menjadi tenang. Dari ragu menjadi yakin. Dari takut menjadi tawakal. Ucapan Hajar, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami,” adalah pelajaran tauhid yang hidup. Keyakinan itu bukan teori, tetapi kekuatan yang menenangkan jiwa di tengah badai ujian. Di sinilah kita belajar, bahwa ketika hidup terasa sempit dan jalan terasa buntu, yang pertama harus diperbaiki adalah keyakinan kita kepada Allah. Karena Allah sendiri telah berjanji: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) Namun kisah ini juga mengajarkan satu hal penting: tawakal bukan berarti diam. Siti Hajar yakin Allah akan menolong. Tapi keyakinan itu tidak membuatnya berpangku tangan. Ia tetap berikhtiar. Ia berlari. Ia mencari. Ia berusaha dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dari Shafa ke Marwah. Dari Marwah ke Shafa. Berulang-ulang, tanpa lelah. Tujuh kali. Itu bukan sekadar gerakan, tetapi simbol kesungguhan. Simbol bahwa harapan harus diperjuangkan, bukan hanya didoakan. Allah pun menegaskan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53) Apa yang dilakukan Hajar adalah pelajaran tentang keteguhan dalam berikhtiar. Ia tidak tahu di mana pertolongan itu akan datang. Ia tidak tahu kapan solusi itu akan muncul. Tapi ia yakin satu hal: selama masih bisa bergerak, maka harus terus berusaha. Dan justru di saat usaha itu mencapai puncaknya, di saat tenaga hampir habis, di saat harapan seakan menipis, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Air itu tidak muncul di bukit Shafa. Tidak pula di Marwah. Tetapi muncul di dekat kaki Ismail, di tempat yang mungkin tidak pernah disangka oleh Hajar. Di sinilah pelajaran besar itu menjadi nyata: bahwa pertolongan Allah seringkali datang bukan dari arah yang kita duga, tetapi dari arah yang Allah kehendaki. Karena itu, kunci untuk meraih kehidupan yang penuh berkah bukan hanya satu, tetapi rangkaian yang saling menguatkan: teguhkan iman, luruskan niat, ikhlaskan hati,dan maksimalkan ikhtiar. Jika ingin hidup berubah, jangan hanya berharap. Jika ingin hasil, jangan hanya menunggu. Bergeraklah. Bahkan jika perlu, berlarilah. Seperti Siti Hajar—yang tidak sekadar berjalan, tetapi berlari-lari dalam mengejar harapan. Bahkan bukan satu kali ia berlari tapi sampai tujuh kali ia melakukaknnya. Dan dari lari kecil seorang ibu di tengah padang tandus itulah, lahir sebuah mata air yang tak pernah kering hingga hari ini. Zam-zam menjadi saksi, bahwa iman yang kuat dan ikhtiar yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalan menuju pertolongan Allah. (*) Wallahu’alam
25/05/2026 | Drs. H. Makmur, M.Ag Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Penyebab Terkuat dan Cara Cepat Untuk Menarik Rezeki   (Amalan Pesugihan Ala Islam)
Penyebab Terkuat dan Cara Cepat Untuk Menarik Rezeki (Amalan Pesugihan Ala Islam)
Mendatangkan rezeki yang berlimpah dan berkah dalam pandangan Islam dapat dilakukan melalui kombinasi antara perbaikan hubungan dengan Tuhan (jalur langit) dan usaha nyata (ikhtiar bumi). Berikut adalah cara-cara sebab utama untuk membuka dan membocorkan pintu rezeki menurut kitab Ta'limul Muta'allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji, Penyebab terkuat untuk menarik rezeki adalah: 1. Melakukan shalat dengan rasa ta'dzim dan khusu', dengan menyempurnakan semua rukun-rukunnya, kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah dan adab-adabnya. 2. Melakukan shalat dhuha. 3. Membaca surat Waqi’ah, khususnya di malam hari sewaktu orang tidur. 4. Membaca surat Al-Mulk. 5. Membaca surat Al-Muzammil. 6. Membaca surat Al-lail. 7. Membaca surat Al-insyirah. 8. Hadir di mesjid sebelum adzan dikumandangkan. 9. Selalu suci (berwudhu). 10. Melakukan shalat sunnah fajar dan Shalat Witir di rumah. 11. Tidak berbicara urusan dunia setelah shalat witir. Sumber Maroji': Ta'limul Muta'allim, hal:44 Amalkan ya saudaraku, insyaallah terkabul dan manjur. Kalau sdh ada kelebihan rezeki jangan lupa berbagi melalui zakat, infaq, dan sedekah melalui : BAZNAS Kota Bandar Lampung : BSI 372 777 0075 An. BAZNAS Kota Bandar Lampung Atau bisa secara langsung melalui: Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung Jl. Basuki Rahmat no.26, sumur putri, Teluk Betung selatan, Kota Bandar Lampung. Informasi dan layanan: 08117911126 BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
30/04/2026 | Ust. H. Ismail Saleh, S.HI., M.H (Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung )
Zakat, Antara Ketentraman dan Kewajiban
Zakat, Antara Ketentraman dan Kewajiban
Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan, sebagai salah satu rukun Islam yang ditunaikan dengan cara diberikan kepada 8 asnaf yang berhak menerimanya. Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5) Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan pensuci dari dosa-dosa. Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103). Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik. Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut: Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan. Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah. Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya. Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya. Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah. Kewajiban mengeluarkan zakat selain sebagai bentuk penyucian diri pada bulan Ramadhan, zakat juga merupakan wujud kepedulian sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Melalui zakat, kebahagiaan dan kemenangan di bulan ramadhan diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata, termasuk oleh masyarakat miskin yang membutuhkan. Mengeluarkan zakat tidak hanya sebatas menunaikan kewajiban, melainkan juga memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi Muzaki, sebagaimana sudah Allah S.w.t janjikan pada Qs. At-Taubah : 103 "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Semoga pada bulan ramadhan 1447 H ini memberikan edukasi dan literasi bagi kita semua tentang antara kewajiban dan ketentraman bagi jiwa yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah.Wallahu'alam..
04/03/2026 | Doni Peryanto, S.Pi - Kepala Pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung