WhatsApp Icon

Berita Terkini

Lebaran Anak Yatim, BAZNAS Kota Bandar Lampung Salurkan Belasan Kambing Untuk Yatim Dhuafa
Lebaran Anak Yatim, BAZNAS Kota Bandar Lampung Salurkan Belasan Kambing Untuk Yatim Dhuafa
Bandar Lampung-Bertepatan dengan Hari Lebaran Anak Yatim, BAZNAS Kota Bandar Lampung dalam agenda menyambut bulan Muharram 1447 H / 2026 M melaksanakan program bidang dakwah dan sosial dengan menyalurkan belasan hewan kambing untuk yayasan dan panti yatim dhuafa di Kota Bandar Lampung. Adapun penyaluran program ini disalurkan kepada 11 Panti Asuhan Yatim Dhuafa yang tersebar di Kota Bandar Lampung. BAZNAS Kota Bandar Lampung menyalurkan secara langsung hewan kambing ke 11 Panti Asuhan Yatim Dhuafa untuk dimanfaatkan sebagai tambahan pangan bergizi untuk anak-anak dan dhuafa yang ada disana. Tidak hanya itu, BAZNAS Kota Bandar Lampung juga menyalurkan beberapa paket pakaian layak pakai yang dihimpun dari para donatur. "BAZNAS Kota Bandar Lampung pada hari ini berbagi dengan adik-adik dan saudara kita yang ada di panti yayasan di beberapa lokasi di Bandar Lampung. ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan kita semua menyambut muharram 1447 H agar tahun baru islam ini disambut dengan haru bahagia juga oleh saudara-saudara kita yang ada di panti sosial" kata Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H. Ismail Saleh, S,Hi, M.H Terima kasih para muzakki dan donatur yang sudah menyalurkan zakat infak sedekahnya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung, semoga di tahun baru islam 1447 H ini memberikan keberkahan bagi kita semua.BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
02/07/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
KURBAN BERKAH: BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG SALURKAN 4 EKOR HEWAN KURBAN
KURBAN BERKAH: BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG SALURKAN 4 EKOR HEWAN KURBAN
Bandar Lampung- Bertepatan dengan momen Idul Adha 1447 H / 2026 M, BAZNAS Kota Bandar Lampung mengadakan pemotongan dan penyaluran hewan kurban untuk masyarakat Kota Bandar Lampung. Pada Idul Adha 1447 H / 2026 M ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung mengadakan pemotongan dan penyaluaran hewan kurban sebanyak 4 ekor sapi dengan bobot sekitar 450 - 480 kg/sapi. BAZNAS Kota Bandar Lampung melaksanakan pemotongan hewan kurban Idul Adha 1447 H / 2026 M pada hari kedua, yakni pada tanggal 28 Mei 2026 yang bertempat di Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung, Jl. Basuki Rahmat, no.26, Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung. Pemotongan 4 ekor sapi hewan kurban pada tahun ini dilaksanakan di dua tempat yakni pemotongan di Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung sebanyak 2 ekor sapi dan 2 ekor sapi lagi dipotong dan disalurkan melalui Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk disalurkan kepada masyarakat yang ada di Kota Bandar Lampung. Pemotongan hewan kurban di BAZNAS Kota Bandar Lampung berjalan dengan lancar sesuai dengan SOP pemotongan hewan dan disaksikan oleh Pimpinan, Dewan Pengawas dan Pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung. Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ustadz H. Ismail Saleh mengatakan persiapan kurban telah dilakukan sejak pasca-Lebaran Idul Fitri atau setelah Syawal 1447 Hijriah, dengan menggencarkan publikasi kepada para muzakki dan donatur. “Kita persiapan dari mulai pasca-Syawal kemarin sudah mulai publikasi kepada para muzakki atau donatur untuk mengajak mereka menyalurkan kurban melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung,” kata Ismail, Senin (25/5/2026). Menurutnya, BAZNAS juga melakukan koordinasi dengan berbagai Unit Pengumpul Zakat (UPZ), masjid, hingga yayasan yang ingin menitipkan hewan kurban untuk disalurkan kepada masyarakat. “Jadi kita juga koordinasi dengan UPZ masjid dan yayasan, sekiranya ada yang mau dititipkan ke kita untuk disalurkan ke masyarakat Kota Bandar Lampung,” ujarnya. Meski demikian, Ismail mengakui pengumpulan donasi tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi masyarakat disebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penghimpunan zakat maupun kurban. “Kalau untuk saat ini memang dari Ramadan kemarin secara pengumpulan kita menurun dibandingkan tahun sebelumnya karena faktor ekonomi sangat berpengaruh, termasuk pengumpulan kurban juga sangat berpengaruh,” jelasnya. Ia mengatakan sebagian masyarakat juga memilih menyalurkan hewan kurban secara mandiri melalui masjid atau yayasan yang telah memiliki legalitas resmi dari BAZNAS. “Walaupun tidak banyak, beberapa ada juga yang menyalurkannya sendiri melalui UPZ yang sudah mendapat legalitas resmi dari BAZNAS Kota Bandar Lampung. Jadi masyarakat tidak hanya fokus ke BAZNAS, mereka juga bisa menyalurkan ke masjid atau yayasan yang memang sudah mendapatkan SK legalitas dari BAZNAS,” katanya. Pada Idul Adha tahun ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung menargetkan empat ekor sapi kurban. Dua ekor sapi rencananya akan dipotong di kantor BAZNAS untuk warga sekitar, sedangkan dua lainnya akan digabungkan bersama Pemerintah Kota Bandar Lampung dan sejumlah organisasi lainnya. “Kalau pembagian di lingkungan sekitar, kita koordinasi dengan RT dan kelurahan karena mereka lebih tahu mana warga yang lebih berhak menerima,” katanya. Sementara untuk penyaluran bersama Pemerintah Kota Bandar Lampung, distribusi akan dilakukan di sejumlah titik di 20 kecamatan dengan melibatkan berbagai lembaga zakat lainnya. “Tahun lalu dari dua sapi bisa menjadi sekitar 300 sampai 400 paket. Itu sudah termasuk tulang dan daging, rata-rata per kantong mendapatkan sekitar 0,9 sampai 1 kilogram daging,” tambahnya. Ismail juga menyebut pengumpulan hewan kurban masih dibuka hingga Kamis mendatang. “Belum ditutup, insyaallah pemotongan sampai hari Kamis. Jadi masih menerima,” ujarnya. Selain fokus pada penyaluran kurban di Bandar Lampung, BAZNAS Kota Bandar Lampung juga turut menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana di Sumatra melalui program kurban siap saji. “Kita juga menyalurkan daging hewan kurban siap makan dalam bentuk kaleng melalui koordinasi dengan BAZNAS pusat untuk tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera,” pungkasnya.
02/06/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Penerima Program Bidang Pendidikan BAZNAS Kota Bandar Lampung Menjuarai Ajang Internasional di Malaysia
Penerima Program Bidang Pendidikan BAZNAS Kota Bandar Lampung Menjuarai Ajang Internasional di Malaysia
Bandar Lampung - Salah satu siswa putra daerah asal Bandar Lampung yang berasal dari MAN 1 Kota Bandar Lampung berhasil menoreh prestasi dikancah internasional, siswa itu adalah Al Amin Fadilah M.Zain merupakan siswa berprestasi yang mendapat dukungan dari BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui program bidang pendidikan untuk mengikuti kompetensi ASTAR Scrabble Challenge International (ASCI) pada tanggal 23 - 24 Mei 2026 yang berlangsung di KL Gateway Mall, Kuala Lumpur, Malaysia. Ajang kompetensi internasional ini diselenggarakan oleh university Malaya yang diikuti oleh peserta siswa dari berbagai negara di ASEAN. Pada ajang ini, Al Amin Fadilah M Zain sebagai perwakilan dari Indonesia dan berhasil menyambet Juara 3 Kompetensi Scrabble Internasional ini. "Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dari BAZNAS Kota Bandar Lampung atas bantuan melalui program bidang pendidikan ini, sehingga saya bisa mengikuti kompetensi ini atas dukungan dari BAZNAS Kota Bandar Lampung dan berbagai pihak yang sudah membantu saya, Alhamdulilah..Terima kasih " ucap Al Amin Fadilah M. Zain. BAZNAS Kota Bandar Lampung mengucapkan terima kasih kepada para Muzaki yang sudah menyalurkan zakat infak sedekah nya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung, sehingga semakin banyak program kolaborasi yang bisa dijalankan. "Komitmen BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui program bidang pendidikan dengan bersinergi bersama Pemerintah Kota Bandar Lampung tidak hanya memberikan bantuan dukungan untuk siswa atau mahasiswa berprestasi yang mengikuti ajang internasional, selain itu kami juga memiliki program bidang pendidikan seperti bantuan tunggakan UKT/SPP, Beasiswa Pendidikan, Bantuan Alat Sekolah serta program lainnya yang memberikan manfaat bagi siswa ataupun mahasiswa di Kota Bandar Lampung" tambah Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H. Ismail Saleh, S.H.i,M.H BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
26/05/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung

Artikel Terbaru

Nabi Ismail dan Air Zamzam: Dari Sekadar Harapan Menjadi Sumber Kehidupan
Nabi Ismail dan Air Zamzam: Dari Sekadar Harapan Menjadi Sumber Kehidupan
Setelah sekian lama menanti, Nabi Ibrahim as akhirnya dianugerahi seorang putra dari Siti Hajar, yang diberi nama Ismail. Kehadiran Ismail adalah kebahagiaan yang lama dinantikan. Namun kebahagiaan itu segera diuji oleh perintah Allah yang tidak mudah dijalankan oleh hati seorang ayah. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah yang jauh, asing, dan tandus, lembah yang tidak berpenghuni, tidak ada air, dan tidak ada kehidupan. Lembah itu kelak dikenal sebagai Makkah. Dengan penuh kepatuhan, Ibrahim menjalankan perintah itu. Ia menempatkan Hajar dan Ismail di sana, hanya dengan bekal yang sangat terbatas. Setelah itu, ia berbalik hendak kembali ke negeri Syam. Melihat Ibrahim pergi, Siti Hajar pun berlari mengejarnya. Dengan suara yang penuh kegelisahan, ia memegang pakaian suaminya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa ini?” Ia mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Namun Ibrahim tidak menoleh, karena jika ia menoleh, mungkin hatinya akan goyah. Akhirnya, dengan nada yang lebih dalam, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab singkat, “Ya.” Seketika itu, kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Dengan keyakinan penuh, Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.” Inilah kalimat tauhid yang hidup—bukan sekadar diucapkan, tetapi benar-benar diyakini. Hajar pun kembali, sementara Ibrahim melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tempat yang sudah tidak terlihat oleh keluarganya, Ibrahim berhenti, menghadap ke arah Baitullah, dan berdoa dengan penuh harap: “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37) Hari demi hari berlalu. Bekal yang sedikit itu pun habis. Rasa lapar dan haus mulai mencekik. Tangisan bayi Ismail pecah, bukan tangisan biasa, tetapi tangisan seorang bayi yang kehausan. Air susu ibunya pun telah kering. Melihat anaknya meronta, hati Hajar hancur. Namun ia tidak menyerah. Ia berlari menuju bukit Shafa, berdiri di sana, memandang ke seluruh penjuru dengan harapan ada seseorang yang bisa menolong. Namun tidak ada siapa pun. Ia turun, lalu berlari menuju bukit Marwah. Ia melihat lagi, tetap tidak ada. Ia kembali lagi ke Shafa. Lalu ke Marwah. Bolak-balik, penuh harap, penuh cemas. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi tujuh kali. Itulah ikhtiar seorang ibu. Ikhtiar yang lahir dari cinta dan iman. Ketika ia kembali ke tempat Ismail, sebuah keajaiban terjadi. Dari dekat kaki bayi Ismail, tiba-tiba memancar air. Malaikat Jibril as menghentakkan sayapnya, memunculkan mata air dari tanah yang kering. Air itu mengalir. Hajar pun bergegas mendekat, menampung dan menahan air itu sambil berkata: “Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah… berkumpullah…) Sejak saat itu, air itu dikenal dengan nama Zam-zam, air yang terus mengalir, tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan di tanah yang sebelumnya mati. Dari setetes air itulah, sejarah besar bermula. Lembah tandus itu berubah menjadi tempat yang hidup. Orang-orang mulai datang. Peradaban tumbuh. Dan kelak, di sanalah berdiri kota suci Makkah, pusat ibadah umat Islam hingga akhir zaman. Peristiwa agung ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji. Apa yang dilakukan Siti Hajar menjadi syariat yang dijalankan oleh jutaan kaum muslimin. Rasulullah saw bersabda: “Dari sinilah manusia melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.” (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain: “Lakukanlah sa’i, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR. Ahmad, hasan) Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”(QS. Al-Baqarah: 158) Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bukan hanya fragmen sejarah yang dibaca untuk dikenang, tetapi cermin kehidupan, tentang bagaimana iman diuji, bagaimana harapan dipertahankan, dan bagaimana pertolongan Allah datang pada saat yang paling genting. Di balik kisah ini, kita melihat betapa beratnya ujian yang dipikul oleh Nabi Ibrahim as. Seorang ayah yang sekian lama menanti kehadiran anak, justru harus rela berpisah ketika kebahagiaan itu baru saja ia rasakan. Bukan sekadar berpisah, tetapi meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang, dalam pandangan manusia, sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Tidak ada air. Tidak ada manusia. Tidak ada harapan, jika dilihat dengan mata lahir. Namun di situlah letak ujian kepatuhan. Ibrahim tidak membantah. Ia tidak menawar. Ia tidak menunda. Karena bagi seorang hamba sejati, ketika Allah memerintah, maka taat adalah satu-satunya jawaban. Dan yang lebih menggetarkan, ujian itu tidak hanya milik Ibrahim. Siti Hajar pun mengalaminya. Sebagai seorang ibu, nalurinya menolak untuk ditinggalkan. Itu sangat manusiawi. Ia bertanya, ia gelisah, ia mengejar. Tetapi ketika ia tahu bahwa semua ini adalah perintah Allah, maka sikapnya berubah total. Dari cemas menjadi tenang. Dari ragu menjadi yakin. Dari takut menjadi tawakal. Ucapan Hajar, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami,” adalah pelajaran tauhid yang hidup. Keyakinan itu bukan teori, tetapi kekuatan yang menenangkan jiwa di tengah badai ujian. Di sinilah kita belajar, bahwa ketika hidup terasa sempit dan jalan terasa buntu, yang pertama harus diperbaiki adalah keyakinan kita kepada Allah. Karena Allah sendiri telah berjanji: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3) Namun kisah ini juga mengajarkan satu hal penting: tawakal bukan berarti diam. Siti Hajar yakin Allah akan menolong. Tapi keyakinan itu tidak membuatnya berpangku tangan. Ia tetap berikhtiar. Ia berlari. Ia mencari. Ia berusaha dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dari Shafa ke Marwah. Dari Marwah ke Shafa. Berulang-ulang, tanpa lelah. Tujuh kali. Itu bukan sekadar gerakan, tetapi simbol kesungguhan. Simbol bahwa harapan harus diperjuangkan, bukan hanya didoakan. Allah pun menegaskan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53) Apa yang dilakukan Hajar adalah pelajaran tentang keteguhan dalam berikhtiar. Ia tidak tahu di mana pertolongan itu akan datang. Ia tidak tahu kapan solusi itu akan muncul. Tapi ia yakin satu hal: selama masih bisa bergerak, maka harus terus berusaha. Dan justru di saat usaha itu mencapai puncaknya, di saat tenaga hampir habis, di saat harapan seakan menipis, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Air itu tidak muncul di bukit Shafa. Tidak pula di Marwah. Tetapi muncul di dekat kaki Ismail, di tempat yang mungkin tidak pernah disangka oleh Hajar. Di sinilah pelajaran besar itu menjadi nyata: bahwa pertolongan Allah seringkali datang bukan dari arah yang kita duga, tetapi dari arah yang Allah kehendaki. Karena itu, kunci untuk meraih kehidupan yang penuh berkah bukan hanya satu, tetapi rangkaian yang saling menguatkan: teguhkan iman, luruskan niat, ikhlaskan hati,dan maksimalkan ikhtiar. Jika ingin hidup berubah, jangan hanya berharap. Jika ingin hasil, jangan hanya menunggu. Bergeraklah. Bahkan jika perlu, berlarilah. Seperti Siti Hajar—yang tidak sekadar berjalan, tetapi berlari-lari dalam mengejar harapan. Bahkan bukan satu kali ia berlari tapi sampai tujuh kali ia melakukaknnya. Dan dari lari kecil seorang ibu di tengah padang tandus itulah, lahir sebuah mata air yang tak pernah kering hingga hari ini. Zam-zam menjadi saksi, bahwa iman yang kuat dan ikhtiar yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalan menuju pertolongan Allah. (*) Wallahu’alam
25/05/2026 | Drs. H. Makmur, M.Ag Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Penyebab Terkuat dan Cara Cepat Untuk Menarik Rezeki   (Amalan Pesugihan Ala Islam)
Penyebab Terkuat dan Cara Cepat Untuk Menarik Rezeki (Amalan Pesugihan Ala Islam)
Mendatangkan rezeki yang berlimpah dan berkah dalam pandangan Islam dapat dilakukan melalui kombinasi antara perbaikan hubungan dengan Tuhan (jalur langit) dan usaha nyata (ikhtiar bumi). Berikut adalah cara-cara sebab utama untuk membuka dan membocorkan pintu rezeki menurut kitab Ta'limul Muta'allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji, Penyebab terkuat untuk menarik rezeki adalah: 1. Melakukan shalat dengan rasa ta'dzim dan khusu', dengan menyempurnakan semua rukun-rukunnya, kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah dan adab-adabnya. 2. Melakukan shalat dhuha. 3. Membaca surat Waqi’ah, khususnya di malam hari sewaktu orang tidur. 4. Membaca surat Al-Mulk. 5. Membaca surat Al-Muzammil. 6. Membaca surat Al-lail. 7. Membaca surat Al-insyirah. 8. Hadir di mesjid sebelum adzan dikumandangkan. 9. Selalu suci (berwudhu). 10. Melakukan shalat sunnah fajar dan Shalat Witir di rumah. 11. Tidak berbicara urusan dunia setelah shalat witir. Sumber Maroji': Ta'limul Muta'allim, hal:44 Amalkan ya saudaraku, insyaallah terkabul dan manjur. Kalau sdh ada kelebihan rezeki jangan lupa berbagi melalui zakat, infaq, dan sedekah melalui : BAZNAS Kota Bandar Lampung : BSI 372 777 0075 An. BAZNAS Kota Bandar Lampung Atau bisa secara langsung melalui: Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung Jl. Basuki Rahmat no.26, sumur putri, Teluk Betung selatan, Kota Bandar Lampung. Informasi dan layanan: 08117911126 BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
30/04/2026 | Ust. H. Ismail Saleh, S.HI., M.H (Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung )
Zakat, Antara Ketentraman dan Kewajiban
Zakat, Antara Ketentraman dan Kewajiban
Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan, sebagai salah satu rukun Islam yang ditunaikan dengan cara diberikan kepada 8 asnaf yang berhak menerimanya. Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5) Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan pensuci dari dosa-dosa. Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103). Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik. Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut: Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan. Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah. Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya. Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya. Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah. Kewajiban mengeluarkan zakat selain sebagai bentuk penyucian diri pada bulan Ramadhan, zakat juga merupakan wujud kepedulian sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Melalui zakat, kebahagiaan dan kemenangan di bulan ramadhan diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata, termasuk oleh masyarakat miskin yang membutuhkan. Mengeluarkan zakat tidak hanya sebatas menunaikan kewajiban, melainkan juga memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi Muzaki, sebagaimana sudah Allah S.w.t janjikan pada Qs. At-Taubah : 103 "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Semoga pada bulan ramadhan 1447 H ini memberikan edukasi dan literasi bagi kita semua tentang antara kewajiban dan ketentraman bagi jiwa yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah.Wallahu'alam..
04/03/2026 | Doni Peryanto, S.Pi - Kepala Pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung