WhatsApp Icon

Berita Terkini

Pimpinan Baru BAZNAS RI 2026-2031 Terima SK dari Presiden
Pimpinan Baru BAZNAS RI 2026-2031 Terima SK dari Presiden
Jakarta -- Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerahkan Surat Keputusan (SK) Presiden kepada jajaran Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI masa jabatan 2026–2031. Penyerahan SK tersebut berlangsung di Operation Room, Gedung Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama menyampaikan harapannya agar kepengurusan BAZNAS yang baru dapat meningkatkan kinerja pengelolaan zakat nasional. Saat ini, BAZNAS tercatat mampu menghimpun dana zakat sekitar Rp41 triliun, dan diharapkan ke depan penghimpunan tersebut dapat meningkat hingga tiga kali lipat. Menag juga menegaskan bahwa pengelolaan zakat harus tetap berpedoman pada ketentuan syariat, khususnya terkait penyaluran kepada delapan golongan penerima zakat (ashnaf). Menurutnya, zakat memiliki peruntukan yang jelas, sementara kegiatan sosial lainnya dapat didukung melalui instrumen keumatan lain seperti sedekah, wakaf, maupun sumber dana sosial lainnya. Selain itu, Nasaruddin Umar berpesan agar para pengurus BAZNAS menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap pengelolaan zakat dapat semakin memperkuat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Adapun nama-nama yang menerima SK Presiden sebagai pimpinan BAZNAS RI yakni Dikdik Sodik Mujahid (ketua), Zainut Tauhid Saadi (wakil ketua), Rizaludin Kurniawan, Saidah Sakwan, Syarifuddin, Idy Muzayyad, Mokhamad Mahdum, Neyla Saida Anwar, Abu Rokhmad, Fatoni, dan Mochamad Agus Rofiudin. Dengan diserahkannya SK tersebut, kepengurusan BAZNAS periode 2026–2031 resmi menjalankan masa tugasnya selama lima tahun ke depan dengan komitmen memperkuat tata kelola zakat nasional serta memperluas kontribusi filantropi Islam bagi kesejahteraan umat.*
13/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
21.000 Mustahik Menikmati Berkah Ramadhan dari BAZNAS Kota Bandar Lampung
21.000 Mustahik Menikmati Berkah Ramadhan dari BAZNAS Kota Bandar Lampung
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bandarlampung menyalurkan zakat fitrah tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi sebesar Rp 37.500 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras premium.Kepada masyarakat yang berhak menerima (mustahik) selama bulan Ramadan 2026. Hingga saat ini, BAZNAS telah menghimpun sekitar 95 ton beras yang kemudian didistribusikan kepada fakir miskin, korban banjir, panti asuhan hingga pondok pesantren. Ketua BAZNAS Kota Bandarlampung Ustadz H. Ismail Saleh menyampaikan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum Ramadan, tepatnya sejak bulan Rajab dan Sya’ban, agar umat Islam menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. “Himbauan kepada masyarakat, khususnya kaum muslimin dan muslimat,agar menyalurkan zakat melalui lembaga resmi yakni BAZNAS,” ujar Ismail, Rabu (11/3/2026). Pengelolaan zakat harus dilakukan oleh lembaga resmi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, sehingga penyalurannya tepat sasaran dan sesuai dengan ketentuan syariat. Menurutnya, BAZNAS memiliki prinsip 3A, yakni aman secara syar’i, aman secara regulasi, dan aman bagi keutuhan NKRI. “Zakat itu jangan sampai salah sasaran. Karena jika tidak melalui lembaga resmi, dikhawatirkan dana tersebut justru digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai, bahkan bisa saja disalahgunakan,” jelasnya. Dalam proses penyaluran zakat tahun ini, BAZNAS juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandarlampung dan Unit Pengumpul Zakat di setiap kecamatan. " Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan mendatangi langsung wilayah-wilayah yang membutuhkan,sejak Selasa kemarin kami mulai menyalurkan zakat bersama Pemerintah Kota Bandarlampung dan UPZ di kecamatan," paparannya. Sudah ada sekitar 10 kecamatan yang kami datangi, dan Kamis nanti akan dilanjutkan ke 10 kecamatan lainnya. " Bantuan juga diberikan kepada warga yang terdampak banjir di sejumlah wilayah seperti Tanjung Senang, Sukarame, dan Way Halim dan Sukabumi, termasuk kepada panti asuhan dan pondok pesantren yang dalam kategori penerima zakat fisabilillah," sambungnya. Tahun ini antusiasme masyarakat, khususnya para muzakki dan Aparatur Sipil Negara (ASN), untuk membayar zakat melalui BAZNAS terus meningkat. Ismail menambahkan, zakat yang dihimpun dari masyarakat Kota Bandarlampung akan dikembalikan kepada masyarakat di wilayah yang sama agar manfaatnya lebih dirasakan oleh warga setempat. Dalam penyaluran zakat fitrah dilakukan sesuai prinsip 3A, yakni Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI, serta disalurkan kepada delapan golongan mustahik sebagaimana ditetapkan dalam syariat Islam," terangnya. Delapan golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) disebutkan dalam Al-Qur'an, Surah At-Taubah (9:60),yaitu 1. Fakir, orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja.2. Miskin, orang yang memiliki harta tapi tidak cukup untuk kebutuhan pokok. 3. Amil, petugas yang ditunjuk untuk mengumpulkan dan mengelola zakat. 4. Mualaf, orang yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan. 5. Riqab, budak yang ingin memerdekakan diri 6. Gharimin, orang yang terjerat hutang dan tidak mampu bayar. 7. Fisabilillah, orang yang berjuang di jalan Allah misal jihad, dakwah. 8. Ibnusabil, musafir yang kehabisan bekal di perjalanan. “Prinsipnya, zakat diambil dari suatu wilayah dan dikembalikan ke wilayah itu juga, selama di daerah tersebut masih banyak yang membutuhkan,” ujarnya. Pihaknya mengingatkan bahwa panitia zakat di masjid yang tidak memiliki Surat Keputusan (SK) dari BAZNAS tidak dapat disebut sebagai amil zakat resmi. “Kalau tidak punya SK dari BAZNAS, mereka hanya panitia saja, tidak bisa mewakili sebagai amil zakat. Karena itu kami mengimbau agar masjid-masjid segera mengurus legalitasnya,” tuturnya. " Hal ini juga sejalan dengan surat edaran dari Pemerintah Kota Bandarlampung Nomor : B/266/400.9.7/I.07/2026 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Zakat Fitrah, Zakat Profesi, Zakat Maal, Infak dan Sedekah," tandasnya
12/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
KODIM 0410/KBL TUNAIKAN ZAKAT FITRAH MELALUI LAYANAN JEMPUT ZAKAT BAZNAS
KODIM 0410/KBL TUNAIKAN ZAKAT FITRAH MELALUI LAYANAN JEMPUT ZAKAT BAZNAS
Bandar Lampung (11 Maret 2026 ), BAZNAS Kota Bandar Lampung melalui layanan jemput zakat melakukan kunjungan ke KODIM 0410/KBL dalam rangka menerima zakat fitrah dari jajaran KODIM 0410/KBL. Pada kesempatan ini zakat fitrah diserahkan oleh perwakilan KODIM 0410/KBL, Kapten Sunarto, SE kepada kepala pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung, Doni Peryanto, S.Pi BAZNAS Kota Bandar Lampung setiap tahun menerima zakat fitrah dari KODIM 0410/KBL yang diserahkan secara langsung oleh jajaran KODIM 0410/KBL, baik zakat fitrah dan zakat maal. BAZNAS Kota Bandar Lampung terus bersinergi dengan para stake holder untuk memberikan layanan kemudahan berzakat dan infak serta sedekah melalui BAZNAS dengan beberapa pilihan, baik secara online ataupun off line. Kemudahan diberikan sebagai bentuk layanan yang mempermudah muzaki atau donatur menyalurkan zakat infak sedekahnya. BAZNAS Kota Bandar Lampung mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakat fitrahnya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung dengan nominal zakat fitrah Rp.37.500/jiwa atau setara 2,5 Kg beras. BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
11/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung

Artikel Terbaru

Ketika Kejujuran Menang atas Kejahatan
Ketika Kejujuran Menang atas Kejahatan
Pagi itu Kota Jilan disambut matahari yang terbit dengan cerah. Langit tampak bersih, dan cahaya pagi perlahan menghangatkan bumi, seakan mengajak manusia memulai aktivitasnya. Namun suasana cerah itu tidak sepenuhnya terasa di sebuah rumah sederhana. Di sana, seorang ibu tengah menahan haru, melepas anak kecilnya pergi menuntut ilmu. Anak itu bernama Abdul Qodir Jailani. Dengan penuh kasih dan keikhlasan, sang ibu menitipkan putranya kepada rombongan saudagar yang hendak menuju Baghdad, kota ilmu yang masyhur pada masa itu. Sebelum berpisah, ia menyelipkan bekal perjalanan sebanyak empat puluh dinar ke dalam lipatan baju anaknya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia berpesan, “Wahai anakku, ingatlah nasihat ibu. Jangan sekali-kali engkau berdusta, walaupun dalam keadaan sesulit apa pun.” Abdul Qodir kecil mengangguk mantap dan menjawab singkat, “Aku berjanji akan mematuhinya.” Diiringi doa seorang ibu, kafilah pun berangkat menyusuri jalan panjang yang sunyi. Hari demi hari mereka tempuh hingga tiba di sebuah kawasan sepi. Tiba-tiba, dari balik bebatuan, muncul sekelompok perampok bersenjata. Wajah mereka keras dan penuh ancaman. Pemimpinnya berteriak lantang, “Serahkan seluruh harta kalian! Jangan ada yang disembunyikan, atau nyawa kalian melayang!” Dengan tubuh gemetar, para anggota kafilah menyerahkan harta mereka satu per satu. Setelah itu, sang pemimpin perampok kembali bertanya dengan suara menekan, “Masih adakah di antara kalian yang belum menyerahkan hartanya?” Tiba-tiba seorang anak kecil melangkah maju dengan berani. “Ada,” jawab Abdul Qodir kecil dengan suara mantap. Pemimpin perampok menatapnya heran. “Apa yang kau miliki?” “Uang empat puluh dinar,” jawabnya jujur. Sang perampok tertawa sinis sambil memandang tubuh kecil itu dari ujung kepala hingga kaki. “Kau berbohong!” katanya. Dengan tenang Abdul Qodir menjawab, “Aku tidak pernah berbohong.” Ia pun membuka lipatan bajunya dan mengeluarkan dinar-dinar tersebut. Seketika suasana hening. Para perampok terdiam, bukan karena gembira, melainkan karena heran. Selama bertahun-tahun merampok, baru kali itu mereka menjumpai seseorang—bahkan seorang anak kecil—yang dengan jujur menyerahkan harta yang sebenarnya bisa ia sembunyikan. Hati pemimpin perampok itu mulai bergetar. Dengan suara yang tak lagi garang, ia bertanya, “Wahai anak, mengapa engkau begitu jujur? Mengapa tidak berbohong saja? Kami tak akan tahu.” Abdul Qodir kecil menjawab dengan keyakinan yang kokoh, “Bagaimana aku akan bertemu Allah jika aku mengkhianati nasihat orang yang paling kucintai, ibuku? Ia berpesan agar aku selalu jujur, apa pun keadaannya.” Kalimat itu menghantam hati sang perampok. Ia terdiam lama, lalu bergumam lirih bahwa seorang anak kecil mampu menjaga amanah, sementara dirinya—lelaki dewasa—telah puluhan tahun mengkhianati Tuhan. Air matanya pun tumpah. Ia menangis, bersimpuh, dan menyatakan tobat kepada Allah. Tangis penyesalan itu diikuti oleh para perampok lainnya. Hari itu, bukan hanya harta yang dikembalikan, tetapi hati-hati yang lama mati kembali hidup. Kejujuran Abdul Qodir kecil hari itu bukan sekadar menyelamatkan dirinya, tetapi juga menghidupkan nurani banyak manusia. Inilah bukti bahwa kejujuran memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada ancaman, kekerasan, dan tipu daya. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga. Sedangkan dusta menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kejujuran selalu melahirkan ketenangan, sedangkan kebohongan hanya menunda kehancuran. Karena itu, Allah swt memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119). Dalam hadis lain, Rasulullah saw menegaskan: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu mendatangkan ketenangan.” (HR. Ahmad) Kejujuran bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan fondasi kepercayaan sosial. Ia melahirkan keberkahan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik. Sebaliknya, runtuhnya integritas merusak tatanan, menghancurkan kepercayaan, mencederai keadilan, dan menumbuhkan kecurigaan di mana-mana. Kisah ini terasa semakin relevan di zaman sekarang. Kita hidup di tengah masyarakat yang tidak kekurangan orang pintar, bergelar tinggi, dan berjabatan strategis. Namun betapa sering kita menyaksikan orang-orang cerdas kehilangan masa depan karena runtuhnya integritas. Penjara hari ini tidak jarang diisi oleh mereka yang berilmu, tetapi menggadaikan kejujuran demi kepentingan sesaat. Ketika integritas hilang, kecerdasan justru berubah menjadi alat kehancuran. Abdul Qodir kecil telah mengajarkan kepada kita bahwa kejujuran mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Dari satu kejujuran lahir perubahan, dari satu amanah yang dijaga tumbuh kemuliaan. Tidak berlebihan jika kelak ia dikenal sebagai Syekh Abdul Qodir Jailani, seorang ulama besar yang namanya harum hingga hari ini. Semua itu berawal dari satu pilihan sederhana: tetap jujur, meski dalam keadaan paling sulit. (*) Wallahu a‘lam.
03/03/2026 | Drs. H. Makmur, M.Ag Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Mengapa ada zakat profesi atau penghasilan?
Mengapa ada zakat profesi atau penghasilan?
Zakat Pendapatan dan Jasa merupakan salah satu jenis zakat yang diamanahkan oleh UU 23/2011 dan Fatwa MUI 3/2003. Secara peraturan yang ada, Nisab atau batas minimum seseorang terkena kewajiban zakat Pendapatan dan Jasa termuat dalam aturan turunan yakni PMA 52/2014 dan PMA 31/2019. Secara prinsip, zakat dikenakan kepada golongan kaya dan diberikan kepada golongan yang miskin. Oleh karena itu, jika zakat dikenakan kepada petani yang dalam konteks kehidupan modern termasuk golongan miskin maka semestinya zakat juga harus dikenakan kepada seorang dokter, insinyur, pengacara dan beragam profesi modern lainnya. Sebab golongan ini justru tergolong dalam kelompok golongan kaya. Pendapatan profesi modern tersebut disetarakan dengan hasil pertanian masa lalu dan dianggap tulang punggung ekonomi masa kini, sehingga dikenakan zakat untuk memastikan bahwa tanggung jawab sosial menjadi komitmen bersama seluruh profesi yang telah memiliki kemapanan finansial, demi mewujudkan kesejahteraan umat secara merata. Untuk kajian lengkapnya mengenai Nisab Zakat Penghasilan 2026 dapat diakses melalui link berikut: https://baznas.go.id/assets/images/pustaka/pdf/Kajian_Nisab_Zakat_Pendapatan_dan_Jasa_2026.pdfBerdasarkan SK Ketua BAZNAS No 15 tahun 2026, Nilai nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus dua puluh delapan rupiah per tahun), atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulanPada Ramadhan 1447 H / 2027 M ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung akan menyalurkan 95 ton (95.000 kg ) beras dan uang tunai di 20 Kecamatan dan 126 kelurahan se Kota Bandar Lampung dengan target mustahik penerima mencapai 20.000 mustahik.Penyaluran ini dihimpun dari dana Zakat Infak Sedekah yang diterima oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung dari para muzaki/donatur, baik dari perorangan maupun lembaga. Mari salurkan zakatnya melalui Baznas Kota Bandar Lampung :BSI 372.777.0075 an. BAZNAS Kota Bandar Lampungatau secara langsung melalui :Kantor BAZNAS Kota Bandar LampungJl. Basuki Rahmat, no,26, Sumur Putri, Teluk Betung SelatanKota Bandar Lampung08117911126 (Layanan BAZNAS Kota Bandar Lampung) BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
02/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Saat Amal Perbuatan Mengetuk Pintu Langit
Saat Amal Perbuatan Mengetuk Pintu Langit
Setiap manusia tentu pernah menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada saat di mana semua jalan terasa tertutup, segala usaha seakan tak berdaya, dan harapan perlahan memudar. Di saat-saat seperti itulah, iman dan amal saleh menjadi cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan. Rasulullah saw pernah mengisahkan satu peristiwa agung yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan amal yang dilakukan dengan ikhlas. Sebuah kisah yang sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam tentang hubungan antara manusia dan Tuhannya, kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa. Diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menceritakan bahwa ada tiga orang laki-laki dari umat sebelum kita yang melakukan perjalanan jauh. Ketika hari mulai gelap dan hujan turun dengan deras, mereka mencari perlindungan di sebuah goa di kaki gunung. Hujan mengguyur tanpa henti, petir menyambar, dan angin berhembus kencang. Tiba-tiba, dari puncak gunung menggelinding sebuah batu besar yang menutup pintu goa rapat-rapat. Mereka pun terperangkap di dalamnya. Gelap, sunyi, dan tanpa jalan keluar. Mereka mencoba menggeser batu itu, berusaha sekuat tenaga, namun sia-sia. Dalam ketakutan dan keputusasaan, salah seorang di antara mereka berkata dengan penuh pasrah, “Kita tidak akan bisa keluar dari goa ini kecuali dengan berdoa kepada Allah dan menyebut amal saleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas karena-Nya.” Kalimat itu menghidupkan harapan. Mereka sadar bahwa yang bisa menolong mereka bukan kekuatan manusia, melainkan rahmat Allah yang bisa diraih melalui amal yang tulus. Maka satu per satu mereka pun mulai berdoa. Yang pertama berdoa dengan mengingat baktinya kepada kedua orang tuanya. Ia bercerita bahwa setiap malam ia selalu membawa susu untuk kedua orang tuanya. Ia tidak pernah meminum atau memberikannya kepada anak-anaknya sebelum keduanya mendapatkan bagiannya. Suatu malam, ia pulang terlambat dan mendapati kedua orang tuanya telah tertidur. Ia tidak ingin membangunkan mereka, tetapi juga tidak mau mendahulukan anak-anaknya. Maka ia berdiri di samping tempat tidur mereka semalaman, menunggu hingga fajar tiba, sementara anak-anaknya menangis kelaparan di kakinya. Dengan penuh harap ia berdoa, “Ya Allah, jika aku melakukan itu hanya karena mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah jalan keluar bagi kami.” Maka batu besar itu bergeser sedikit, namun mereka belum bisa keluar. Orang kedua kemudian berdoa dengan mengenang bagaimana ia menahan diri dari berbuat zina. Ia mencintai seorang wanita dengan cinta yang membara. Ketika kesempatan berzina itu terbuka lebar, ia justru mengingat Allah dan berkata, “Aku takut kepada Tuhanku.” Ia meninggalkannya meski sangat menginginkannya. Ia berdoa, “Ya Allah, jika aku meninggalkan perbuatan itu semata karena takut kepada-Mu, maka tolonglah kami.” Batu itu pun bergeser lagi, namun belum cukup untuk keluar. Lalu orang ketiga berdoa dengan mengingat kejujuran dan amanah dalam bekerja. Ia pernah diserahi upah seorang buruh yang kemudian pergi tanpa mengambilnya. Ia tidak membiarkan uang itu menganggur, tetapi mengelolanya hingga berkembang menjadi harta yang besar. Ketika buruh itu kembali setelah waktu lama, ia menyerahkan seluruh hasilnya tanpa mengurangi sedikit pun. Ia berdoa, “Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap ridha-Mu, maka bebaskanlah kami dari goa ini.” Maka batu besar itu pun bergeser sepenuhnya, dan mereka bertiga keluar dengan selamat. Kisah ini bukan sekadar cerita ajaib tentang keselamatan, tetapi sebuah pelajaran hidup yang menggugah tentang keikhlasan dan kekuatan amal saleh. Mereka tidak diselamatkan oleh kekuatan fisik atau kecerdikan akal, tetapi oleh amal-amal yang dilakukan dengan hati bersih dan niat yang lurus karena Allah semata. Amal yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah hilang, sebab ia tersimpan di sisi Allah sebagai simpanan cahaya, yang suatu hari akan bersinar di saat manusia terjebak dalam kegelapan hidupnya. Dalam kisah ini, kita melihat bahwa berbakti kepada orang tua menjadi sebab pertama terbukanya pertolongan Allah. Betapa mulianya amal ini, hingga Allah menempatkan perintah berbuat baik kepada orang tua sejajar dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14). Dan dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Rasulullah saw pun menegaskan, “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya.” (HR. Tirmidzi). Tidak sedikit orang yang hidupnya lapang, rezekinya berkah, dan langkahnya ringan karena ia memuliakan orang tuanya. Sebaliknya, banyak pula yang hidupnya terasa sempit dan penuh kesulitan karena durhaka kepada mereka. Maka berbaktilah kepada orang tua tanpa batas waktu, karena doa mereka adalah rahmat yang mengundang kemudahan dalam hidup. Amal kedua adalah menahan diri dari perbuatan zina. Di tengah dunia yang semakin terbuka dan penuh godaan, menjaga kehormatan diri menjadi bukti keteguhan iman. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). Orang yang mampu menahan hawa nafsunya akan diberi kemuliaan di dunia dan akhirat. Allah menjanjikan, “Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41). Orang seperti ini tidak hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjaga kehormatan keluarga dan masyarakatnya. Kisah amal ketiga ini mengajarkan tentang kejujuran dan amanah, dua sifat mulia yang menjadi pondasi peradaban manusia. Ia tidak menyelewengkan harta yang bukan miliknya, tidak menganggap amanah sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga meski tanpa pengawasan. Nilai ini begitu penting karena banyak persoalan hidup, dari yang kecil hingga yang besar, berawal dari hilangnya kejujuran dan amanah. Ketika dua hal ini ditegakkan, kehidupan akan menemukan jalannya sendiri menuju keberkahan. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58). Dan dalam ayat lain Allah menegaskan,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27). Sementara Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu tiga: apabila berkata, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa amanah dan kejujuran bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan ukuran iman seseorang. Orang yang jujur dan amanah tidak hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjaga kepercayaan orang lain, menegakkan keadilan, dan menciptakan ketenangan dalam kehidupan sosial. Dalam konteks kehidupan modern, di dunia kerja, pemerintahan, maupun usaha, dua nilai ini menjadi fondasi kepercayaan dan keberhasilan. Kejujuran menjadikan seseorang dipercaya, sementara amanah menjadikan seseorang dihormati. Bila kejujuran hilang, hubungan antarmanusia akan runtuh; bila amanah dilanggar, keadilan akan lenyap. Maka orang yang berpegang pada dua sifat ini akan selalu menemukan jalan keluar dalam hidupnya, karena Allah akan menolong hamba yang menjaga kejujuran meski dalam kesulitan. Ketiga amal itu: bakti kepada orang tua, menahan diri dari dosa, dan kejujuran dalam bekerja, menjadi simbol kesempurnaan amal saleh, bahkan ia bisa menjadi amal pengetuk pintu langit. Ketiganya bukan hanya mengundang pahala di akhirat, tetapi juga mendatangkan pertolongan Allah di dunia. Karena itu, jika hidup terasa sempit, jika hati dirundung gelisah, atau langkah terasa berat, maka janganlah berputus asa. Mungkin batu besar sedang menutupi jalan kita, dan kuncinya ada pada amal yang kita lakukan dengan tulus. Amal yang bersih dari riya’, yang lahir dari hati yang takut kepada Allah dan penuh kasih kepada sesama. Sebab tidak ada doa yang lebih kuat daripada doa yang bersandar pada amal yang ikhlas, dan tidak ada pertolongan yang lebih nyata daripada pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang tulus. (*) Wallahu’alam
24/10/2025 | Drs. H. Makmur, M.Ag Kepala Kankemenag Bandarlampung dan Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung