Berita Terkini
BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG SOSIALISASI ZAKAT DI CAR FREE DAY TUGU ADIPURA
BANDAR LAMPUNG – Badan Amil Zakat Nasional Kota Bandar Lampung menggelar kegiatan sosialisasi dan membuka stand layanan di area Car Free Day Tugu Adipura, Minggu, 24 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya BAZNAS untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran menunaikan zakat, infaq, dan shodaqoh. Di tengah ramainya aktivitas warga yang berolahraga, tim BAZNAS menyapa langsung para pengunjung dengan membagikan brosur, leaflet, dan memberikan edukasi singkat.
CFD ADIPURA (Car Free Day) merupakan momentum strategis untuk bersilaturahmi dan menyampaikan program-program BAZNAS. "Kami ingin masyarakat tahu bahwa zakat yang ditunaikan melalui BAZNAS akan disalurkan secara amanah, transparan, dan tepat sasaran untuk 8 asnaf,"
Stand BAZNAS juga membuka layanan konsultasi zakat profesi dan penerimaan donasi. Beberapa Masyarakat terlihat antusias, bertanya, dan sebagian langsung menunaikan zakat di tempat.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah zakat dan menumbuhkan budaya berbagi di Kota Bandar Lampung.
24/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
PEDULI KORBAN GEMPA NTT, BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG GALANG DONASI BERSAMA MAHASISWA KKN UIN LAMPUNG
Bencana gempa bumi dengan goncangan hingga mencapai Magnitudo 7,7 melanda wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya yang terjadi pada beberapa hari yang lalu masih meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Data dari BPNB per tgl 19 Agustus 2026 yang lalu menyebutkan 71 orang korban meninggal dunia dan lebih dari 1.182 orang mengalami luka-luka. Hingga saat ini pemerintah masih terus menyalurkan bantuan kepada korban terdampak bencana yang juga berkolaborasi dengan beberapa lembaga filanthropi, salah satunya adalah BAZNAS RI. BAZNAS RI pasca gempa terjadi, langsung menurunkan tim Baznas Tanggap Bencana ke lokasi bencana dengan berkoordinasi dengan stake holder lainnya antara BNPB dan Basarnas. Melalui koordinasi tersebut, BAZNAS RI juga memberikan intruksi khusus untuk seluruh BAZNAS daerah di Indonesia untuk melakukan aksi solidaritas dan kepedulian untuk membantu korban bencana gempa di NTT, antara lain adalah menggalang donasi di wilayah masing-masing BAZNAS daerah.Pada hari ini di momentum jum'at berkah ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung melakuka aksi solidaritas bantu korban terdampak bencana gempa NTT bersama Mahasiswa UIN raden intan lampung yang sedang melakukan KKN/PKL di Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung. Aksi solidaritas dengan melakukan penggalangan donasi ini berlangsung di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran dan empati atas saudara-saudara kita yang terdampak gempa di NTT dengan mengajak masyarakat untuk memberikan donasi melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung. Donasi yang nantinya dihimpun oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung ini akan disalurkan kepada korban terdampak bencana gempa di NTT yang disalurkan melalui BAZNAS Tanggap Bencana untuk disalurkan langsung ke lokasi terdampak. Hingga saat ini bantuan yang sangat urgent dibutuhkan dilokasi terdampak bencana adalah obat-obatan, makanan, selimut hingga perlengkapan bayi/balita.
Mari kita bantu saudara kita yang terdampak bencana gempa NTT dengan memberikan donasi terbaik melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung. Berikan dukungan terbaik Anda melalui:
BSI 372.777.0075
BCA Syariah 066.300.6666
a.n. BAZNAS Kota Bandar Lampung
Atau melalui :
Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung
Jl.Basuki Rahmat, no.26 Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung
Informasi :
08117911126
BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
#PrayForNTT #GempaNTT #BAZNAS #SedekahBencana #NTT
21/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
BAZNAS Kota Bandar Lampung Bersama Mahasiswa KKN/PKL UIN Raden Intan Lampung Salurkan Bantuan Makanan dan Pakaian kepada Masyarakat
Bandar Lampung, 19 Agustus 2026 — Sebagai bentuk kepedulian dan upaya untuk terus menebarkan manfaat kepada masyarakat, BAZNAS Kota Bandar Lampung bersama mahasiswa KKN/PKL UIN Raden Intan Lampung melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan berupa makanan dan pakaian kepada masyarakat di wilayah Kelurahan Kelapa Tiga dan Kelurahan Kaliawi, Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian BAZNAS Kota Bandar Lampung terhadap masyarakat yang membutuhkan. Bantuan disalurkan secara langsung kepada masyarakat di lingkungan Kelurahan Kelapa Tiga dan Kaliawi dengan melibatkan mahasiswa KKN/PKL UIN Raden Intan Lampung yang sedang melaksanakan kegiatan di BAZNAS Kota Bandar Lampung.
Dalam kegiatan tersebut, bantuan yang diberikan berupa makanan dan pakaian yang dihimpun dan disiapkan untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat. Penyaluran dilakukan secara langsung sehingga bantuan dapat diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan berlangsung dengan penuh kebersamaan dan mendapat sambutan baik dari masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKN/PKL UIN Raden Intan Lampung juga turut membantu kelancaran proses penyaluran bantuan sekaligus menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat.
BAZNAS Kota Bandar Lampung bersama mahasiswa KKN/PKL UIN Raden Intan Lampung akan terus berupaya membangun kepedulian dan semangat berbagi kepada masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar untuk menebarkan manfaat serta memperkuat hubungan dengan para penerima manfaat.
Mari salurkan Infak sedekah terbaiknya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung :
Bank BSI 372.777.0075
Bank Mandiri 114.00.1242.3144
Bank Lampung 380.03.04.99000.6
Bank BCA Syariah 066.300.6666
Bank Waway 001.10.005.22
An. BAZNAS Kota Bandar Lampung
Atau bisa melalui Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung jl. Basuki Rahmat No.26, Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Kota Bandar lampung.
Bisa menghubungi nomor layanan 08117911126
BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
19/08/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Artikel Terbaru
Nabi Ismail dan Air Zamzam: Dari Sekadar Harapan Menjadi Sumber Kehidupan
Setelah sekian lama menanti, Nabi Ibrahim as akhirnya dianugerahi seorang putra dari Siti Hajar, yang diberi nama Ismail. Kehadiran Ismail adalah kebahagiaan yang lama dinantikan. Namun kebahagiaan itu segera diuji oleh perintah Allah yang tidak mudah dijalankan oleh hati seorang ayah.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah yang jauh, asing, dan tandus, lembah yang tidak berpenghuni, tidak ada air, dan tidak ada kehidupan. Lembah itu kelak dikenal sebagai Makkah.
Dengan penuh kepatuhan, Ibrahim menjalankan perintah itu. Ia menempatkan Hajar dan Ismail di sana, hanya dengan bekal yang sangat terbatas. Setelah itu, ia berbalik hendak kembali ke negeri Syam.
Melihat Ibrahim pergi, Siti Hajar pun berlari mengejarnya. Dengan suara yang penuh kegelisahan, ia memegang pakaian suaminya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa ini?”
Ia mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Namun Ibrahim tidak menoleh, karena jika ia menoleh, mungkin hatinya akan goyah. Akhirnya, dengan nada yang lebih dalam, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ibrahim menjawab singkat, “Ya.” Seketika itu, kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Dengan keyakinan penuh, Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Inilah kalimat tauhid yang hidup—bukan sekadar diucapkan, tetapi benar-benar diyakini. Hajar pun kembali, sementara Ibrahim melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tempat yang sudah tidak terlihat oleh keluarganya, Ibrahim berhenti, menghadap ke arah Baitullah, dan berdoa dengan penuh harap:
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Hari demi hari berlalu. Bekal yang sedikit itu pun habis. Rasa lapar dan haus mulai mencekik. Tangisan bayi Ismail pecah, bukan tangisan biasa, tetapi tangisan seorang bayi yang kehausan. Air susu ibunya pun telah kering.
Melihat anaknya meronta, hati Hajar hancur. Namun ia tidak menyerah. Ia berlari menuju bukit Shafa, berdiri di sana, memandang ke seluruh penjuru dengan harapan ada seseorang yang bisa menolong. Namun tidak ada siapa pun.
Ia turun, lalu berlari menuju bukit Marwah. Ia melihat lagi, tetap tidak ada. Ia kembali lagi ke Shafa. Lalu ke Marwah. Bolak-balik, penuh harap, penuh cemas. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi tujuh kali. Itulah ikhtiar seorang ibu. Ikhtiar yang lahir dari cinta dan iman.
Ketika ia kembali ke tempat Ismail, sebuah keajaiban terjadi. Dari dekat kaki bayi Ismail, tiba-tiba memancar air. Malaikat Jibril as menghentakkan sayapnya, memunculkan mata air dari tanah yang kering.
Air itu mengalir. Hajar pun bergegas mendekat, menampung dan menahan air itu sambil berkata: “Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah… berkumpullah…)
Sejak saat itu, air itu dikenal dengan nama Zam-zam, air yang terus mengalir, tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan di tanah yang sebelumnya mati.
Dari setetes air itulah, sejarah besar bermula. Lembah tandus itu berubah menjadi tempat yang hidup. Orang-orang mulai datang. Peradaban tumbuh. Dan kelak, di sanalah berdiri kota suci Makkah, pusat ibadah umat Islam hingga akhir zaman.
Peristiwa agung ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji. Apa yang dilakukan Siti Hajar menjadi syariat yang dijalankan oleh jutaan kaum muslimin.
Rasulullah saw bersabda: “Dari sinilah manusia melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.” (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain: “Lakukanlah sa’i, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR. Ahmad, hasan) Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”(QS. Al-Baqarah: 158)
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bukan hanya fragmen sejarah yang dibaca untuk dikenang, tetapi cermin kehidupan, tentang bagaimana iman diuji, bagaimana harapan dipertahankan, dan bagaimana pertolongan Allah datang pada saat yang paling genting.
Di balik kisah ini, kita melihat betapa beratnya ujian yang dipikul oleh Nabi Ibrahim as. Seorang ayah yang sekian lama menanti kehadiran anak, justru harus rela berpisah ketika kebahagiaan itu baru saja ia rasakan. Bukan sekadar berpisah, tetapi meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang, dalam pandangan manusia, sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Tidak ada air. Tidak ada manusia. Tidak ada harapan, jika dilihat dengan mata lahir.
Namun di situlah letak ujian kepatuhan. Ibrahim tidak membantah. Ia tidak menawar. Ia tidak menunda. Karena bagi seorang hamba sejati, ketika Allah memerintah, maka taat adalah satu-satunya jawaban.
Dan yang lebih menggetarkan, ujian itu tidak hanya milik Ibrahim. Siti Hajar pun mengalaminya. Sebagai seorang ibu, nalurinya menolak untuk ditinggalkan. Itu sangat manusiawi. Ia bertanya, ia gelisah, ia mengejar. Tetapi ketika ia tahu bahwa semua ini adalah perintah Allah, maka sikapnya berubah total.
Dari cemas menjadi tenang. Dari ragu menjadi yakin. Dari takut menjadi tawakal. Ucapan Hajar, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami,” adalah pelajaran tauhid yang hidup. Keyakinan itu bukan teori, tetapi kekuatan yang menenangkan jiwa di tengah badai ujian.
Di sinilah kita belajar, bahwa ketika hidup terasa sempit dan jalan terasa buntu, yang pertama harus diperbaiki adalah keyakinan kita kepada Allah. Karena Allah sendiri telah berjanji:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3)
Namun kisah ini juga mengajarkan satu hal penting: tawakal bukan berarti diam. Siti Hajar yakin Allah akan menolong. Tapi keyakinan itu tidak membuatnya berpangku tangan. Ia tetap berikhtiar. Ia berlari. Ia mencari. Ia berusaha dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dari Shafa ke Marwah. Dari Marwah ke Shafa. Berulang-ulang, tanpa lelah. Tujuh kali. Itu bukan sekadar gerakan, tetapi simbol kesungguhan. Simbol bahwa harapan harus diperjuangkan, bukan hanya didoakan.
Allah pun menegaskan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Apa yang dilakukan Hajar adalah pelajaran tentang keteguhan dalam berikhtiar. Ia tidak tahu di mana pertolongan itu akan datang. Ia tidak tahu kapan solusi itu akan muncul. Tapi ia yakin satu hal: selama masih bisa bergerak, maka harus terus berusaha.
Dan justru di saat usaha itu mencapai puncaknya, di saat tenaga hampir habis, di saat harapan seakan menipis, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Air itu tidak muncul di bukit Shafa. Tidak pula di Marwah. Tetapi muncul di dekat kaki Ismail, di tempat yang mungkin tidak pernah disangka oleh Hajar.
Di sinilah pelajaran besar itu menjadi nyata: bahwa pertolongan Allah seringkali datang bukan dari arah yang kita duga, tetapi dari arah yang Allah kehendaki.
Karena itu, kunci untuk meraih kehidupan yang penuh berkah bukan hanya satu, tetapi rangkaian yang saling menguatkan: teguhkan iman, luruskan niat, ikhlaskan hati,dan maksimalkan ikhtiar.
Jika ingin hidup berubah, jangan hanya berharap. Jika ingin hasil, jangan hanya menunggu. Bergeraklah. Bahkan jika perlu, berlarilah. Seperti Siti Hajar—yang tidak sekadar berjalan, tetapi berlari-lari dalam mengejar harapan. Bahkan bukan satu kali ia berlari tapi sampai tujuh kali ia melakukaknnya.
Dan dari lari kecil seorang ibu di tengah padang tandus itulah, lahir sebuah mata air yang tak pernah kering hingga hari ini. Zam-zam menjadi saksi, bahwa iman yang kuat dan ikhtiar yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalan menuju pertolongan Allah. (*)
Wallahu’alam
25/05/2026 | Drs. H. Makmur, M.Ag Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Penyebab Terkuat dan Cara Cepat Untuk Menarik Rezeki (Amalan Pesugihan Ala Islam)
Mendatangkan rezeki yang berlimpah dan berkah dalam pandangan Islam dapat dilakukan melalui kombinasi antara perbaikan hubungan dengan Tuhan (jalur langit) dan usaha nyata (ikhtiar bumi).
Berikut adalah cara-cara sebab utama untuk membuka dan membocorkan pintu rezeki menurut kitab Ta'limul Muta'allim karya Syekh Burhanuddin al-Zarnuji, Penyebab terkuat untuk menarik rezeki adalah:
1. Melakukan shalat dengan rasa ta'dzim dan khusu', dengan menyempurnakan semua rukun-rukunnya, kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah dan adab-adabnya.
2. Melakukan shalat dhuha.
3. Membaca surat Waqi’ah, khususnya di malam hari sewaktu orang tidur.
4. Membaca surat Al-Mulk.
5. Membaca surat Al-Muzammil.
6. Membaca surat Al-lail.
7. Membaca surat Al-insyirah.
8. Hadir di mesjid sebelum adzan dikumandangkan.
9. Selalu suci (berwudhu).
10. Melakukan shalat sunnah fajar dan Shalat Witir di rumah.
11. Tidak berbicara urusan dunia setelah shalat witir.
Sumber Maroji':
Ta'limul Muta'allim, hal:44
Amalkan ya saudaraku, insyaallah terkabul dan manjur. Kalau sdh ada kelebihan rezeki jangan lupa berbagi melalui zakat, infaq, dan sedekah melalui :
BAZNAS Kota Bandar Lampung :
BSI 372 777 0075
An. BAZNAS Kota Bandar Lampung
Atau bisa secara langsung melalui:
Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung Jl. Basuki Rahmat no.26, sumur putri, Teluk Betung selatan, Kota Bandar Lampung.
Informasi dan layanan: 08117911126
BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
30/04/2026 | Ust. H. Ismail Saleh, S.HI., M.H (Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung )
Zakat, Antara Ketentraman dan Kewajiban
Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan, sebagai salah satu rukun Islam yang ditunaikan dengan cara diberikan kepada 8 asnaf yang berhak menerimanya.
Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5)
Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan pensuci dari dosa-dosa.
Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103).
Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik.
Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut:
Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.
Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.
Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya.
Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.
Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya.
Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.
Kewajiban mengeluarkan zakat selain sebagai bentuk penyucian diri pada bulan Ramadhan, zakat juga merupakan wujud kepedulian sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Melalui zakat, kebahagiaan dan kemenangan di bulan ramadhan diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata, termasuk oleh masyarakat miskin yang membutuhkan.
Mengeluarkan zakat tidak hanya sebatas menunaikan kewajiban, melainkan juga memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa bagi Muzaki, sebagaimana sudah Allah S.w.t janjikan pada Qs. At-Taubah : 103 "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Semoga pada bulan ramadhan 1447 H ini memberikan edukasi dan literasi bagi kita semua tentang antara kewajiban dan ketentraman bagi jiwa yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah.Wallahu'alam..
04/03/2026 | Doni Peryanto, S.Pi - Kepala Pelaksana BAZNAS Kota Bandar Lampung
