WhatsApp Icon

Berita Terkini

Kinerja Pengelolaan Zakat Meningkat, BAZNAS Berhasil Tekan Angka Kemiskinan di Indonesia
Kinerja Pengelolaan Zakat Meningkat, BAZNAS Berhasil Tekan Angka Kemiskinan di Indonesia
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menyampaikan kinerja pengelolaan zakat nasional tahun 2025 berdasarkan Indeks Zakat Nasional (IZN) versi 3.0 semakin meningkat baik dengan nilai 0,57 atau berada pada kategori stabil. Capaian tersebut menegaskan peran nyata zakat dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Hal tersebut mengemuka pada Public Expose Hasil Perhitungan Indeks Zakat Nasional dan Kaji Dampak Zakat 2026,secara daring, Selasa (3/3/2026), yang dihadiri Pimpinan BAZNAS RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan, Dr. Zainulbahar Noor, SE, M.Ec., serta Direktur Kajian dan Pengembangan BAZNAS RI, Dr. Muhammad Hasbi Zaenal. Secara nasional, pengelolaan zakat sepanjang 2025 tercatat mampu mengentaskan 302.994 jiwa dari kemiskinan. Dari jumlah tersebut, 113.134 jiwa berasal dari kelompok miskin ekstrem. Angka itu memberikan kontribusi sebesar 5,84 persen terhadap total pengentasan kemiskinan nasional pada tahun yang sama. Dari total capaian tersebut, BAZNAS RI secara langsung turut menyumbang pengentasan 18.035 jiwa dari kemiskinan. Pimpinan BAZNAS RI Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan Prof. (Assoc). Dr. Zainulbahar Noor., SE., MEc mengatakan, pengelolaan zakat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 memiliki tujuan utama pencegahan dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, menurutnya, pengukuran dampak menjadi bagian penting untuk memastikan fungsi tersebut berjalan efektif dan terukur. “Melalui Indeks Zakat Nasional ini, kita tidak hanya mengukur penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga sistem yang kita miliki serta dampaknya secara terukur. Setiap rupiah dana muzaki harus dapat dipertanggungjawabkan secara syariah, profesional, serta memberikan perubahan nyata secara sosial dan ekonomi,” tegasnya. Ia menambahkan, tanpa instrumen seperti IZN, lembaga zakat akan kesulitan menjelaskan secara tepat dan sederhana kepada publik mengenai peran dan dampak konkret zakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Zainulbahar berharap IZN bisa semakin dikenal luas dan menjadi rujukan penting, bukan hanya di internal BAZNAS tetapi juga di kalangan pemerintah, akademisi, dan lembaga lain. Ia bahkan berharap IZN dipertimbangkan dalam penyusunan indeks pembangunan ekonomi syariah nasional. Sementara itu, Direktur Kajian dan Pengembangan ZIS DSKL Nasional, Dr. Muhammad Hasbi Zaenal, menjelaskan IZN merupakan satu-satunya instrumen resmi yang digunakan BAZNAS untuk memotret kualitas dan performa pengelolaan zakat di seluruh wilayah Indonesia. Ia mengatakan, nilai IZN disusun mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga agregasi nasional. “Nilai IZN nasional adalah hasil akumulasi dari seluruh nilai IZN kabupaten, kota, dan provinsi. Dari hasil tersebut, kita dapat melihat wilayah yang nilainya baik, sedang, maupun masih rendah sebagai gambaran kualitas pengelolaan zakat di masing-masing daerah,” kata Hasbi. Pada 2025, Hasbi menyampaikan, partisipasi pengisian IZN mencapai 426 lembaga, menjadi capaian tertinggi sejak implementasi IZN dimulai sejak tahun 2016. "Semakin banyaknya partisipasi lembaga maka hasil pengukuran, maka semakin dapat menggambarkan kondisi sebenarnya," ujarnya. Hasbi berharap, hasil IZN 2025 dapat menjadi instrumen evaluasi berkelanjutan dan memperkuat peran zakat dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di Indonesia pada tahun 2026 dan selanjutnya.
03/03/2026 | Humas BAZNAS RI
BAZNAS Kota Bandar Lampung Tetapkan Besaran Zakat Fitrah Ramadhan 1447 H
BAZNAS Kota Bandar Lampung Tetapkan Besaran Zakat Fitrah Ramadhan 1447 H
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bandar Lampung menetapkan besaran zakat fitrah tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi sebesar Rp 37.500 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras premium. Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung H. Ismail Saleh, S.H.I, M.H, mengatakan, penetapan tersebut dilakukan setelah melalui kajian mendalam dengan mempertimbangkan perkembangan harga beras di berbagai wilayah di Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung. Hal ini juga sejalan dengan surat edaran dari Pemerintah Kota Bandar Nomor : B/266/400.9.7/I.07/2026 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Zakat Fitrah, Zakat Profesi, Zakat Maal, Infak dan Sedekah “Setelah melalui kajian mendalam serta pertimbangan yang cermat, BAZNAS Kota Bandar Lampung menetapkan nilai zakat fitrah menjadi Rp 37.500 ribu per jiwa, serta menetapkan besaran fidyah sebesar Rp 50.000 per jiwa per hari. Ustadz Ismail Saleh menegaskan, nilai zakat fitrah dan fidyah tersebut merupakan besaran yang dibayarkan melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung. Ketentuan ini diharapkan dapat menjadi pedoman yang seragam dalam pengelolaan zakat fitrah pada Ramadan 2026 ini. Namun, besaran zakat fitrah tersebut juga bisa menyesuaikan dengan besaran harga beras yang biasa Muzaki atau masyarakat konsumsi sehari-hari. "Dalam kondisi tersebut, Masyarakat (Muzaki) diperkenankan menetapkan nilai zakat fitrah dan fidyah secara mandiri, sepanjang sesuai dengan syariat Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya. Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung mengatakan, zakat fitrah dapat ditunaikan sejak awal Ramadan dan paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul fitri. Sementara itu, penyaluran zakat fitrah kepada mustahik dilakukan paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul fitri, yakni sebelum khatib naik mimbar. Dengan penetapan ini, Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung berharap pengelolaan zakat fitrah dan fidyah pada Ramadan 2026 ini dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat penerima manfaat, khususnya di wilayah Kota Bandar Lampung. “Kami memastikan pengelolaan dan penyaluran zakat fitrah dilakukan sesuai prinsip 3A, yakni Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI, serta disalurkan kepada delapan golongan mustahik sebagaimana ditetapkan dalam syariat Islam,” katanya. BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
03/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Ramadan untuk Palestina, BAZNAS RI Distribusikan 2.400 Pakaian bagi Pengungsi di Gaza
Ramadan untuk Palestina, BAZNAS RI Distribusikan 2.400 Pakaian bagi Pengungsi di Gaza
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak konflik. Pendistribusian 2.400 paket pakaian baru tersebut difokuskan bagi para pengungsi di dua titik krusial, yakni Al Zahraa Camp dan Palestine Camp di pusat Kota Gaza. Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A., menjelaskan bahwa ribuan pakaian ini merupakan akumulasi bantuan dari berbagai elemen masyarakat Indonesia, termasuk kolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), MIRA, LAZ Muhajir, serta jajaran mitra strategis BAZNAS lainnya. ?"Kami terus berupaya memastikan bantuan dari para muzaki sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan. Distribusi pakaian di Al Zahraa dan Palestine Camp ini adalah langkah konkret untuk memberikan kenyamanan dan menjaga martabat saudara-saudara kita di Gaza yang telah kehilangan harta bendanya," jelas Saidah Sakwan dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/3/2026). Aksi distribusi ini menyasar para penerima manfaat di kamp pengungsian Gaza, dengan prioritas kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Dengan menggandeng mitra lokal, BAZNAS memastikan proses distribusi di tengah situasi sulit tetap berjalan kondusif dan tepat sasaran. ?Saidah menegaskan, komitmen BAZNAS untuk Palestina tidak akan berhenti pada bantuan sandang saja. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus konsisten memberikan dukungan doa dan donasi terbaik demi memulihkan kondisi kemanusiaan di tanah para nabi tersebut. ?"Bantuan ini bukan sekadar angka 2.400 paket pakaian, melainkan pesan solidaritas bahwa Palestina tidak sendirian. BAZNAS akan terus mengawal amanah rakyat Indonesia dalam program kemanusiaan berkelanjutan, baik dalam bentuk pangan, sandang, maupun pelayanan kesehatan di masa mendatang," katanya. Mari lanjutkan aksi nyata ini, basuh luka Palestina dengan meringankan beban mereka melalui sedekah terbaik Anda melalui Dompet Solidaritas Palestina BAZNAS. BSI 100.426.6893 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Atau melalui: baznas.go.id/bantupalestina
03/03/2026 | Humas BAZNAS

Artikel Terbaru

Ketika Kejujuran Menang atas Kejahatan
Ketika Kejujuran Menang atas Kejahatan
Pagi itu Kota Jilan disambut matahari yang terbit dengan cerah. Langit tampak bersih, dan cahaya pagi perlahan menghangatkan bumi, seakan mengajak manusia memulai aktivitasnya. Namun suasana cerah itu tidak sepenuhnya terasa di sebuah rumah sederhana. Di sana, seorang ibu tengah menahan haru, melepas anak kecilnya pergi menuntut ilmu. Anak itu bernama Abdul Qodir Jailani. Dengan penuh kasih dan keikhlasan, sang ibu menitipkan putranya kepada rombongan saudagar yang hendak menuju Baghdad, kota ilmu yang masyhur pada masa itu. Sebelum berpisah, ia menyelipkan bekal perjalanan sebanyak empat puluh dinar ke dalam lipatan baju anaknya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia berpesan, “Wahai anakku, ingatlah nasihat ibu. Jangan sekali-kali engkau berdusta, walaupun dalam keadaan sesulit apa pun.” Abdul Qodir kecil mengangguk mantap dan menjawab singkat, “Aku berjanji akan mematuhinya.” Diiringi doa seorang ibu, kafilah pun berangkat menyusuri jalan panjang yang sunyi. Hari demi hari mereka tempuh hingga tiba di sebuah kawasan sepi. Tiba-tiba, dari balik bebatuan, muncul sekelompok perampok bersenjata. Wajah mereka keras dan penuh ancaman. Pemimpinnya berteriak lantang, “Serahkan seluruh harta kalian! Jangan ada yang disembunyikan, atau nyawa kalian melayang!” Dengan tubuh gemetar, para anggota kafilah menyerahkan harta mereka satu per satu. Setelah itu, sang pemimpin perampok kembali bertanya dengan suara menekan, “Masih adakah di antara kalian yang belum menyerahkan hartanya?” Tiba-tiba seorang anak kecil melangkah maju dengan berani. “Ada,” jawab Abdul Qodir kecil dengan suara mantap. Pemimpin perampok menatapnya heran. “Apa yang kau miliki?” “Uang empat puluh dinar,” jawabnya jujur. Sang perampok tertawa sinis sambil memandang tubuh kecil itu dari ujung kepala hingga kaki. “Kau berbohong!” katanya. Dengan tenang Abdul Qodir menjawab, “Aku tidak pernah berbohong.” Ia pun membuka lipatan bajunya dan mengeluarkan dinar-dinar tersebut. Seketika suasana hening. Para perampok terdiam, bukan karena gembira, melainkan karena heran. Selama bertahun-tahun merampok, baru kali itu mereka menjumpai seseorang—bahkan seorang anak kecil—yang dengan jujur menyerahkan harta yang sebenarnya bisa ia sembunyikan. Hati pemimpin perampok itu mulai bergetar. Dengan suara yang tak lagi garang, ia bertanya, “Wahai anak, mengapa engkau begitu jujur? Mengapa tidak berbohong saja? Kami tak akan tahu.” Abdul Qodir kecil menjawab dengan keyakinan yang kokoh, “Bagaimana aku akan bertemu Allah jika aku mengkhianati nasihat orang yang paling kucintai, ibuku? Ia berpesan agar aku selalu jujur, apa pun keadaannya.” Kalimat itu menghantam hati sang perampok. Ia terdiam lama, lalu bergumam lirih bahwa seorang anak kecil mampu menjaga amanah, sementara dirinya—lelaki dewasa—telah puluhan tahun mengkhianati Tuhan. Air matanya pun tumpah. Ia menangis, bersimpuh, dan menyatakan tobat kepada Allah. Tangis penyesalan itu diikuti oleh para perampok lainnya. Hari itu, bukan hanya harta yang dikembalikan, tetapi hati-hati yang lama mati kembali hidup. Kejujuran Abdul Qodir kecil hari itu bukan sekadar menyelamatkan dirinya, tetapi juga menghidupkan nurani banyak manusia. Inilah bukti bahwa kejujuran memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada ancaman, kekerasan, dan tipu daya. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga. Sedangkan dusta menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Kejujuran selalu melahirkan ketenangan, sedangkan kebohongan hanya menunda kehancuran. Karena itu, Allah swt memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur, sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119). Dalam hadis lain, Rasulullah saw menegaskan: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu mendatangkan ketenangan.” (HR. Ahmad) Kejujuran bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan fondasi kepercayaan sosial. Ia melahirkan keberkahan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik. Sebaliknya, runtuhnya integritas merusak tatanan, menghancurkan kepercayaan, mencederai keadilan, dan menumbuhkan kecurigaan di mana-mana. Kisah ini terasa semakin relevan di zaman sekarang. Kita hidup di tengah masyarakat yang tidak kekurangan orang pintar, bergelar tinggi, dan berjabatan strategis. Namun betapa sering kita menyaksikan orang-orang cerdas kehilangan masa depan karena runtuhnya integritas. Penjara hari ini tidak jarang diisi oleh mereka yang berilmu, tetapi menggadaikan kejujuran demi kepentingan sesaat. Ketika integritas hilang, kecerdasan justru berubah menjadi alat kehancuran. Abdul Qodir kecil telah mengajarkan kepada kita bahwa kejujuran mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Dari satu kejujuran lahir perubahan, dari satu amanah yang dijaga tumbuh kemuliaan. Tidak berlebihan jika kelak ia dikenal sebagai Syekh Abdul Qodir Jailani, seorang ulama besar yang namanya harum hingga hari ini. Semua itu berawal dari satu pilihan sederhana: tetap jujur, meski dalam keadaan paling sulit. (*) Wallahu a‘lam.
03/03/2026 | Drs. H. Makmur, M.Ag Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Mengapa ada zakat profesi atau penghasilan?
Mengapa ada zakat profesi atau penghasilan?
Zakat Pendapatan dan Jasa merupakan salah satu jenis zakat yang diamanahkan oleh UU 23/2011 dan Fatwa MUI 3/2003. Secara peraturan yang ada, Nisab atau batas minimum seseorang terkena kewajiban zakat Pendapatan dan Jasa termuat dalam aturan turunan yakni PMA 52/2014 dan PMA 31/2019. Secara prinsip, zakat dikenakan kepada golongan kaya dan diberikan kepada golongan yang miskin. Oleh karena itu, jika zakat dikenakan kepada petani yang dalam konteks kehidupan modern termasuk golongan miskin maka semestinya zakat juga harus dikenakan kepada seorang dokter, insinyur, pengacara dan beragam profesi modern lainnya. Sebab golongan ini justru tergolong dalam kelompok golongan kaya. Pendapatan profesi modern tersebut disetarakan dengan hasil pertanian masa lalu dan dianggap tulang punggung ekonomi masa kini, sehingga dikenakan zakat untuk memastikan bahwa tanggung jawab sosial menjadi komitmen bersama seluruh profesi yang telah memiliki kemapanan finansial, demi mewujudkan kesejahteraan umat secara merata. Untuk kajian lengkapnya mengenai Nisab Zakat Penghasilan 2026 dapat diakses melalui link berikut: https://baznas.go.id/assets/images/pustaka/pdf/Kajian_Nisab_Zakat_Pendapatan_dan_Jasa_2026.pdfBerdasarkan SK Ketua BAZNAS No 15 tahun 2026, Nilai nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus dua puluh delapan rupiah per tahun), atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulanPada Ramadhan 1447 H / 2027 M ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung akan menyalurkan 95 ton (95.000 kg ) beras dan uang tunai di 20 Kecamatan dan 126 kelurahan se Kota Bandar Lampung dengan target mustahik penerima mencapai 20.000 mustahik.Penyaluran ini dihimpun dari dana Zakat Infak Sedekah yang diterima oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung dari para muzaki/donatur, baik dari perorangan maupun lembaga. Mari salurkan zakatnya melalui Baznas Kota Bandar Lampung :BSI 372.777.0075 an. BAZNAS Kota Bandar Lampungatau secara langsung melalui :Kantor BAZNAS Kota Bandar LampungJl. Basuki Rahmat, no,26, Sumur Putri, Teluk Betung SelatanKota Bandar Lampung08117911126 (Layanan BAZNAS Kota Bandar Lampung) BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
02/03/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Saat Amal Perbuatan Mengetuk Pintu Langit
Saat Amal Perbuatan Mengetuk Pintu Langit
Setiap manusia tentu pernah menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada saat di mana semua jalan terasa tertutup, segala usaha seakan tak berdaya, dan harapan perlahan memudar. Di saat-saat seperti itulah, iman dan amal saleh menjadi cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan. Rasulullah saw pernah mengisahkan satu peristiwa agung yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan amal yang dilakukan dengan ikhlas. Sebuah kisah yang sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam tentang hubungan antara manusia dan Tuhannya, kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa. Diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menceritakan bahwa ada tiga orang laki-laki dari umat sebelum kita yang melakukan perjalanan jauh. Ketika hari mulai gelap dan hujan turun dengan deras, mereka mencari perlindungan di sebuah goa di kaki gunung. Hujan mengguyur tanpa henti, petir menyambar, dan angin berhembus kencang. Tiba-tiba, dari puncak gunung menggelinding sebuah batu besar yang menutup pintu goa rapat-rapat. Mereka pun terperangkap di dalamnya. Gelap, sunyi, dan tanpa jalan keluar. Mereka mencoba menggeser batu itu, berusaha sekuat tenaga, namun sia-sia. Dalam ketakutan dan keputusasaan, salah seorang di antara mereka berkata dengan penuh pasrah, “Kita tidak akan bisa keluar dari goa ini kecuali dengan berdoa kepada Allah dan menyebut amal saleh yang pernah kita lakukan dengan ikhlas karena-Nya.” Kalimat itu menghidupkan harapan. Mereka sadar bahwa yang bisa menolong mereka bukan kekuatan manusia, melainkan rahmat Allah yang bisa diraih melalui amal yang tulus. Maka satu per satu mereka pun mulai berdoa. Yang pertama berdoa dengan mengingat baktinya kepada kedua orang tuanya. Ia bercerita bahwa setiap malam ia selalu membawa susu untuk kedua orang tuanya. Ia tidak pernah meminum atau memberikannya kepada anak-anaknya sebelum keduanya mendapatkan bagiannya. Suatu malam, ia pulang terlambat dan mendapati kedua orang tuanya telah tertidur. Ia tidak ingin membangunkan mereka, tetapi juga tidak mau mendahulukan anak-anaknya. Maka ia berdiri di samping tempat tidur mereka semalaman, menunggu hingga fajar tiba, sementara anak-anaknya menangis kelaparan di kakinya. Dengan penuh harap ia berdoa, “Ya Allah, jika aku melakukan itu hanya karena mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah jalan keluar bagi kami.” Maka batu besar itu bergeser sedikit, namun mereka belum bisa keluar. Orang kedua kemudian berdoa dengan mengenang bagaimana ia menahan diri dari berbuat zina. Ia mencintai seorang wanita dengan cinta yang membara. Ketika kesempatan berzina itu terbuka lebar, ia justru mengingat Allah dan berkata, “Aku takut kepada Tuhanku.” Ia meninggalkannya meski sangat menginginkannya. Ia berdoa, “Ya Allah, jika aku meninggalkan perbuatan itu semata karena takut kepada-Mu, maka tolonglah kami.” Batu itu pun bergeser lagi, namun belum cukup untuk keluar. Lalu orang ketiga berdoa dengan mengingat kejujuran dan amanah dalam bekerja. Ia pernah diserahi upah seorang buruh yang kemudian pergi tanpa mengambilnya. Ia tidak membiarkan uang itu menganggur, tetapi mengelolanya hingga berkembang menjadi harta yang besar. Ketika buruh itu kembali setelah waktu lama, ia menyerahkan seluruh hasilnya tanpa mengurangi sedikit pun. Ia berdoa, “Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap ridha-Mu, maka bebaskanlah kami dari goa ini.” Maka batu besar itu pun bergeser sepenuhnya, dan mereka bertiga keluar dengan selamat. Kisah ini bukan sekadar cerita ajaib tentang keselamatan, tetapi sebuah pelajaran hidup yang menggugah tentang keikhlasan dan kekuatan amal saleh. Mereka tidak diselamatkan oleh kekuatan fisik atau kecerdikan akal, tetapi oleh amal-amal yang dilakukan dengan hati bersih dan niat yang lurus karena Allah semata. Amal yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah hilang, sebab ia tersimpan di sisi Allah sebagai simpanan cahaya, yang suatu hari akan bersinar di saat manusia terjebak dalam kegelapan hidupnya. Dalam kisah ini, kita melihat bahwa berbakti kepada orang tua menjadi sebab pertama terbukanya pertolongan Allah. Betapa mulianya amal ini, hingga Allah menempatkan perintah berbuat baik kepada orang tua sejajar dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14). Dan dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Rasulullah saw pun menegaskan, “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya.” (HR. Tirmidzi). Tidak sedikit orang yang hidupnya lapang, rezekinya berkah, dan langkahnya ringan karena ia memuliakan orang tuanya. Sebaliknya, banyak pula yang hidupnya terasa sempit dan penuh kesulitan karena durhaka kepada mereka. Maka berbaktilah kepada orang tua tanpa batas waktu, karena doa mereka adalah rahmat yang mengundang kemudahan dalam hidup. Amal kedua adalah menahan diri dari perbuatan zina. Di tengah dunia yang semakin terbuka dan penuh godaan, menjaga kehormatan diri menjadi bukti keteguhan iman. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). Orang yang mampu menahan hawa nafsunya akan diberi kemuliaan di dunia dan akhirat. Allah menjanjikan, “Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40–41). Orang seperti ini tidak hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjaga kehormatan keluarga dan masyarakatnya. Kisah amal ketiga ini mengajarkan tentang kejujuran dan amanah, dua sifat mulia yang menjadi pondasi peradaban manusia. Ia tidak menyelewengkan harta yang bukan miliknya, tidak menganggap amanah sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga meski tanpa pengawasan. Nilai ini begitu penting karena banyak persoalan hidup, dari yang kecil hingga yang besar, berawal dari hilangnya kejujuran dan amanah. Ketika dua hal ini ditegakkan, kehidupan akan menemukan jalannya sendiri menuju keberkahan. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58). Dan dalam ayat lain Allah menegaskan,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27). Sementara Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu tiga: apabila berkata, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa amanah dan kejujuran bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan ukuran iman seseorang. Orang yang jujur dan amanah tidak hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjaga kepercayaan orang lain, menegakkan keadilan, dan menciptakan ketenangan dalam kehidupan sosial. Dalam konteks kehidupan modern, di dunia kerja, pemerintahan, maupun usaha, dua nilai ini menjadi fondasi kepercayaan dan keberhasilan. Kejujuran menjadikan seseorang dipercaya, sementara amanah menjadikan seseorang dihormati. Bila kejujuran hilang, hubungan antarmanusia akan runtuh; bila amanah dilanggar, keadilan akan lenyap. Maka orang yang berpegang pada dua sifat ini akan selalu menemukan jalan keluar dalam hidupnya, karena Allah akan menolong hamba yang menjaga kejujuran meski dalam kesulitan. Ketiga amal itu: bakti kepada orang tua, menahan diri dari dosa, dan kejujuran dalam bekerja, menjadi simbol kesempurnaan amal saleh, bahkan ia bisa menjadi amal pengetuk pintu langit. Ketiganya bukan hanya mengundang pahala di akhirat, tetapi juga mendatangkan pertolongan Allah di dunia. Karena itu, jika hidup terasa sempit, jika hati dirundung gelisah, atau langkah terasa berat, maka janganlah berputus asa. Mungkin batu besar sedang menutupi jalan kita, dan kuncinya ada pada amal yang kita lakukan dengan tulus. Amal yang bersih dari riya’, yang lahir dari hati yang takut kepada Allah dan penuh kasih kepada sesama. Sebab tidak ada doa yang lebih kuat daripada doa yang bersandar pada amal yang ikhlas, dan tidak ada pertolongan yang lebih nyata daripada pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang tulus. (*) Wallahu’alam
24/10/2025 | Drs. H. Makmur, M.Ag Kepala Kankemenag Bandarlampung dan Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung