WhatsApp Icon

Berita Terkini

GIAT VERIFIKASI CALON UPZ YAYASAN INSAN MANDIRI KOTA BANDAR LAMPUNG
GIAT VERIFIKASI CALON UPZ YAYASAN INSAN MANDIRI KOTA BANDAR LAMPUNG
Bandar Lampung - BAZNAS Kota Bandar Lampung terus bergerak untuk memberikan akses bagi masyarakat melalui lembaganya untuk dibuatkan regulasi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di lembaga masing-masing sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang ada. Pada hari Rabu (14 Januari 2026), Pimpinan BAZNAS Kota Bandar Lampung Dr.H.Abdul Aziz, M.Pd.I (Wakil Ketua Bidang Pengumpulan), Cahyo Prabowo, S.P ( Wakil Ketua Bidang Pendistribusian) serta didampingi oleh Doni Peryanto, S.Pi (Kepala Sekretariat) melakukan giat ke calon Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Yayasan Insan Mandiri yang berada di daerah Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini dalam rangka verifikasi calon Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung guna memastikan legalitas secara administrasi dan hal lainnya yang berkaitan dengan ketentuan UPZ. Pada kegiatan ini diterima secara langsung oleh Para Pengurus calon UPZ Yayasan Insan Mandiri. Terus bergerak dan berkolaborasi untuk memberikan manfaat dan keberkahan bagi kesejahteraan ummat. [ Baznas Kota Bandar Lampung ] #Baznas #Baznasbandarlampung #Gerakancintazakat #zakat #infak #sedekah #UPZBaznas #lekaspulihindonesia
15/01/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
TERIMAKASIH WALIKOTA BANDAR LAMPUNG, MUZAKI (DONATUR), MAJELIS, PONPES, INSTANSI (LEMBAGA) & MASYARAKAT UNTUK DONASI BANTU BENCANA SUMATERA
TERIMAKASIH WALIKOTA BANDAR LAMPUNG, MUZAKI (DONATUR), MAJELIS, PONPES, INSTANSI (LEMBAGA) & MASYARAKAT UNTUK DONASI BANTU BENCANA SUMATERA
Syukur Alhamdulillah diawal tahun 2026 ini, BAZNAS Kota Bandar Lampung sudah menghimpun dan menyalurkan donasi bantu bencana sumatera dari pemerintah dan masyarakat kota bandar lampung di tahun 2025. Bantuan donasi Bencana Sumatra melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung Insyaallah sangat membantu korban dalam memenuhi kebutuhan mendesak mereka, baik kebutuhan makanan, minuman, oba-obatan, pakaian tentunya bantuan tersebut sangat meringankan beban di tengah situasi yang sulit yang mereka hadapi saat ini. Adapun jumah donasi yang diterima per tanggal 31 Desember 2025 oleh BAZNAS Kota Bandar Lampung sebesar Rp. 181.188.750,- yang disalurkan melalui BAZNAS RI untuk diteruskan ke korban bencana yang ada di Sumatera, khususnya Aceh, Sumut dan Sumbar. Terima kasih orang baik, para donatur, Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung,Ponpes, Komunitas, Instansi, Lembaga Pendidikan, dan Masyarakat yang sudah menitipkan donasinya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung. Jadikanlah musibah ini pelajaran dan hikmah untuk kita semua, karena adakalanya bencana yang terjadi adalah ujian, hukuman, bahkan bisa jadi sebagai azab atas ketidak ramahan kita terhadap alam semesta dan sang pencipta. Semuanya sudah terjadi mari kita evaluasi, introspeksi, dan muhasabah diri. Jangan justru saling menyalahkan dengan kata-kata, kemarin, dan narasi, atau menjadikan lokasi bencana sebagai panggung politik, medan selfie dan layar pencitraan diri. Kebaikan yang kita rasakan adalah karunia Allah SWT, sebagaimana keburukan yang menimpa kita ada hubungannya dengan ulah nakal jail prilaku kita. Semoga saudara-kita yang tertimpa musibah diberikan kekuatan, kesabaran, dan kesehatan. Bagi para korban jiwa semoga mereka syahid dan Husnul Khotimah kelurga di berikan keikhlasan dan kesabaran. Untuk saudara-saudara kita yang terdampak semoga Allah SWT memberi perlindungan serta ketabahan. Terpenting kita saling peduli karna Alloh membantu apapun dan berapapun insyaallah berkah dan bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. BAZNAS Kota Bandar Lampung masih dan tetap menerima donasi bantu bencana sumatera dari para donatur sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Hal ini guna memberikan dukungan kepada para korban terdampak bencana untuk masa pemulihan pasca bencana. Mari terus kita bantu saudara kita para korban terdampak bencana di Sumatera. Donasi bisa disalurkan melalui: BSI 372 777 0075 An. BAZNAS Kota Bandar Lampung Atau bisa secara langsung melalui: Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung Jl. Basuki Rahmat no.26, sumur putri, Teluk Betung selatan, Kota Bandar Lampung. Informasi dan layanan: 08117911126 BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
15/01/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Bantu Korban Bencana Sumatera, Ponpes El Syihab Salurkan Donasi Melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung
Bantu Korban Bencana Sumatera, Ponpes El Syihab Salurkan Donasi Melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung
Bandar Lampung (14 Januari 2026), Ponpes/sekolah El Syihab, sukabumi Bandar Lampung salurkan donasi untuk membantu korban terdampak bencana di Sumatera melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung yang diserahkan secara langsung oleh perwakilan Ponpes El Syihab. Pada proses penyerahan donasi ini diterima secara langsung oleh Ketua BAZNAS Kota Bandar Lampung, Ust. H. Ismail Saleh, S.H.i, M.H serta didampingi oleh Wakil Ketua III, H. Rusdi Said, S.E bertempat di Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung. Penyaluran donasi untuk korban bencana di Sumatera ini merupakan bentuk solidaritas dan dukungan dari setiap lapisan masyarakat yang menitipkan donasinya melalui BAZNAS Kota Bandar Lampung, hingga saat ini BAZNAS Kota Bandar Lampung terus mengajak dan menerima donasi untuk membantu korban bencana di Sumatera. Pada akhir tahun 2025, BAZNAS Kota Bandar Lampung sudah menerima donasi untuk membantu korban bencana di Sumatera dengan nominal total Rp. 181.188.750,- yang kemudian sudah disalurkan kepada korban bencana alam di Sumatera melalui BAZNAS RI. Mari kita bantu saudara kita para korban terdampak bencana di Sumatera. Donasi bisa disalurkan melalui: BSI 372 777 0075 An. BAZNAS Kota Bandar Lampung Atau bisa secara langsung melalui: Kantor BAZNAS Kota Bandar Lampung Jl. Basuki Rahmat no.26, sumur putri, Teluk Betung selatan, Kota Bandar Lampung. Informasi dan layanan: 08117911126 terima kasih orang baik, ???????? BAZNAS KOTA BANDAR LAMPUNG
14/01/2026 | Humas BAZNAS Kota Bandar Lampung

Artikel Terbaru

SEDEKAH MENGHADIRKAN SEJUTA BERKAH
SEDEKAH MENGHADIRKAN SEJUTA BERKAH
Suatu hari Rasulullah saw menerima hadiah berupa sebuah jubah yang indah. Kainnya lembut, warnanya menawan, dan tampak begitu berharga. Dengan penuh syukur beliau menerimanya lalu berkata kepada istrinya yang tercinta, Aisyah ra, “Wahai Aisyah, simpanlah jubah ini.” Tidak lama kemudian, seorang pengemis tua datang mengetuk pintu rumah beliau. Dengan wajah penuh harap, ia memohon, “Wahai Rasulullah, berilah aku sesuatu untuk kebutuhan hidupku.” Rasulullah pun menoleh kepada Aisyah ra, “Lihatlah, adakah sesuatu di rumah ini, makanan, gandum, atau roti yang bisa kita berikan kepadanya?” Aisyah ra mencari, lalu menjawab dengan jujur, “Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak ada apa-apa kecuali jubah indah yang baru engkau terima itu.” Rasulullah saw tersenyum, lalu bersabda, “Kalau begitu, berikanlah jubah itu kepadanya.” Maka jubah itu pun diberikan kepada pengemis tua tersebut, dan beliau menasihatinya agar menjualnya demi memenuhi kebutuhannya. Dengan penuh kegembiraan, pengemis itu pergi ke pasar. Ia menawarkan jubah Rasulullah saw kepada orang-orang. Namun, seketika pasar pun menjadi heboh. Orang-orang berkerumun sambil berbisik penuh kekaguman, “Itu jubah milik Rasulullah! Jubah yang baru beliau terima sebagai hadiah!” Kabar ini menyebar dengan cepat, hingga sampai ke telinga seorang lelaki kaya yang buta. Meski matanya gelap, hatinya terang dengan cinta kepada Rasulullah saw. Saat mendengar kabar itu, ia memanggil budaknya dan berkata, “Pergilah ke pasar. Carilah jubah itu. Belilah dengan harga berapapun. Jika engkau berhasil membawanya kepadaku, maka aku bebaskan engkau dari perbudakan.” Budaknya pun bergegas menuju pasar. Dengan penuh semangat ia mencari pengemis tua yang menjual jubah tersebut. Begitu bertemu, ia langsung membelinya dengan harga tinggi tanpa banyak tawar-menawar. Setelah itu ia kembali pulang dengan penuh sukacita, menyerahkan jubah Rasulullah saw kepada tuannya. Lelaki kaya yang buta itu menerima jubah tersebut dengan penuh haru. Tangannya gemetar saat menyentuh kainnya, dan air matanya berlinang membasahi pipinya. Dengan suara lirih ia berdoa, “Ya Allah, jadikan jubah ini sarana keberkahan untukku. Dekatkan aku dengan Rasul-Mu yang mulia.” Dengan izin Allah, penglihatannya pun kembali. Ia dapat melihat dunia dengan terang. Betapa bahagianya, cahaya pertama yang ia saksikan setelah lama buta adalah jubah penuh berkah milik Nabi saw yang ia cintai. Sebagai tanda syukur, ia mengembalikan jubah itu dan menghadiahkannya kembali kepada Rasulullah saw. Maka jubah tersebut kembali lagi ke tangan beliau setelah melalui perjalanan panjang yang penuh makna. Melihat peristiwa itu, Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah ra, “Wahai Aisyah, lihatlah… dari sebuah sedekah, Allah memberi jalan rezeki bagi orang miskin, menyembuhkan yang buta, dan memerdekakan budak.” Sungguh luar biasa keutamaan sedekah. Dari sebuah pemberian kecil yang ikhlas, Allah melipatgandakan manfaatnya dan mengalirkan keberkahan yang tak terbayangkan. Al-Qur’an menegaskan bahwa pahala sedekah tidak hanya kembali satu kali lipat, melainkan berlipat ganda hingga tak terhitung. Allah berfirman, “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261). Bahkan di ayat lain Allah menegaskan bahwa Dia akan mengganti apa saja yang diinfakkan oleh hamba-Nya dengan balasan yang lebih baik (QS. Saba: 39). Inilah bukti betapa kaya dan pemurahnya Allah. Rasulullah saw sendiri menegaskan bahwa harta tidak akan pernah berkurang karena sedekah, bahkan akan selalu diganti oleh Allah dengan keberkahan dan rezeki yang lebih luas. Kisah jubah yang akhirnya kembali ke tangan beliau menjadi bukti nyata, bahwa apa yang dikeluarkan di jalan Allah sesungguhnya tidak hilang, melainkan akan kembali dengan cara yang indah. Bukan hanya itu, sedekah juga menjadi sebab turunnya ketenangan hidup, sebagaimana firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 274 bahwa orang yang gemar berinfak dan bersedekah akan mendapatkan kehidupan tanpa rasa takut dan kesedihan. Bahkan, sedekah dapat menjadi obat yang manjur untuk berbagai penyakit. Rasulullah saw bersabda, “Obatilah orang-orang sakit dengan sedekah.” (HR. al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman). Dengan kata lain, sedekah adalah jalan penyembuhan lahir dan batin, karena ia mengundang kasih sayang dan pertolongan Allah. Lebih dari itu, sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadis riwayat Tirmidzi. Di akhirat kelak, sedekah akan menjadi pelindung bagi orang beriman, sebagaimana sabda beliau, “Naungan orang beriman pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad). Bahkan sedekah yang tampak kecil sekalipun, seperti sebutir kurma, bisa menjadi penyelamat dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keutamaan sedekah pun tidak hanya terbatas pada balasan di akhirat, tetapi juga balasan kebaikan yang nyata di dunia. Rasulullah saw bersabda bahwa siapa pun yang memberi makan orang beriman saat lapar, Allah akan memberinya makan dari buah surga. Siapa pun yang memberi minum orang beriman saat haus, Allah akan memberinya minuman dari surga. Dan siapa pun yang memberi pakaian kepada orang beriman saat telanjang, Allah akan memberinya pakaian dari sutera surga (HR. Tirmidzi). Betapa luas pintu-pintu kebaikan yang dibukakan Allah melalui amal sederhana bernama sedekah. Dan sesungguhnya, sedekah tidak harus selalu berupa harta benda. Rasulullah saw mengajarkan bahwa senyum tulus kepada saudara kita pun adalah sedekah. Memberi tenaga, pikiran, ilmu, bahkan sekadar menyingkirkan duri di jalan pun dihitung sebagai sedekah. Artinya, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bersedekah, tanpa terkecuali, sesuai kemampuan masing-masing. Kisah jubah Rasulullah saw ini menjadi pelajaran mendalam bahwa satu sedekah ikhlas dapat mengubah banyak kehidupan: mengangkat fakir miskin dari kesulitan, menjadi sebab kesembuhan bagi yang sakit, membebaskan dari perbudakan, melipatgandakan pahala bagi yang memberi, dan menjadi penolong di hari akhirat. Sedekah bukan sekadar memberi, melainkan sarana Allah menurunkan rahmat-Nya. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan pernah hilang, melainkan akan kembali dalam bentuk keberkahan di dunia dan akhirat. Terakhir, menjadi sebuah renungan firman Allah swt “Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). (QS. Al-Lail : 5-10). Wallahu a’lam.
26/09/2025 | Drs. H. Makmur, M.Ag Kepala Kankemenag Bandarlampung dan Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Tangga Kecil Menuju Sukses
Tangga Kecil Menuju Sukses
Hidup yang bermartabat bukanlah hidup yang bergantung pada belas kasihan orang lain. Harga diri seseorang ada pada kerja kerasnya, pada keringat yang ia teteskan, dan pada usaha halal yang ia jalani, sekecil apa pun hasilnya. Betapa mulia orang yang memilih berusaha, meski sederhana, daripada sekadar meminta-minta dan menyerahkan nasibnya pada kemurahan hati orang lain. Karena sesungguhnya, setiap langkah kecil yang diambil dengan tekad dan kerja keras, adalah tangga yang akan mengantarkan pada keberhasilan yang lebih besar. Anas bin Malik ra mengisahkan sebuah peristiwa yang menggetarkan hati. Suatu hari, seorang lelaki miskin dari kalangan Anshar datang menghadap Rasulullah saw. Wajahnya letih, pakaiannya lusuh, dan suaranya lirih namun penuh harap. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ini orang miskin. Tolonglah aku.” Seandainya beliau mau, tentu Rasulullah saw bisa langsung memberinya sesuatu. Tetapi Nabi yang penuh hikmah itu tidak hanya ingin memberi, melainkan mendidik. Beliau bertanya dengan tenang, “Apakah engkau memiliki sesuatu di rumahmu?” Lelaki itu menjawab, “Ada, wahai Rasulullah. Hanya sebuah cangkir dan selembar kain.” Rasulullah saw lalu bersabda, “Pulanglah, bawalah keduanya kepadaku.” Lelaki itu segera mengambil barang-barang tersebut, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah saw. Beliau pun melelangnya di hadapan para sahabat. Terjual dengan harga dua dirham. Rasulullah saw kemudian memberikan uang itu sambil bersabda, “Ambillah satu dirham untuk membeli makanan bagi keluargamu. Dan dengan satu dirham lagi, belilah kapak, lalu bawalah ke sini.” Tak lama, lelaki itu kembali membawa sebuah kapak. Rasulullah saw memasangkan gagangnya dengan tangan beliau sendiri, kemudian menyerahkannya seraya berkata, “Pergilah, carilah kayu bakar dan juallah. Jangan datang kepadaku selama lima belas hari, kecuali jika engkau benar-benar tidak memiliki apa-apa.” Hari-hari berlalu. Belum genap lima belas hari, lelaki itu kembali dengan wajah yang berbeda. Kali ini bukan wajah seorang pengemis, melainkan seorang pekerja keras yang mulai menemukan harga dirinya. Dengan penuh syukur ia menceritakan bahwa ia telah memperoleh sepuluh dirham dari hasil menjual kayu bakar. Sebagian dibelanjakan untuk makanan, sebagian lagi untuk membeli pakaian. Hidupnya mulai berubah, langkah kecilnya kini menuntunnya pada arah yang lebih baik. Rasulullah saw tersenyum bangga dan bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada engkau datang meminta-minta. Karena meminta-minta hanya layak bagi tiga golongan: orang fakir yang benar-benar tidak memiliki apa-apa, orang yang terlilit utang berat, dan orang yang menanggung diyat (utang darah).” (HR. Abu Dawud No. 1641). Kisah ini bukan sekadar cerita tentang dua dirham dan sebuah kapak, melainkan pelajaran besar tentang martabat, usaha, dan cara pandang hidup. Rasulullah saaw tidak ingin umatnya tumbuh dengan mental pengemis, tetapi dengan jiwa pekerja keras yang percaya bahwa setiap tetes keringat memiliki nilai. Beliau mengajarkan bahwa bekerja, meskipun pekerjaan itu sederhana dan kasar, jauh lebih mulia daripada hidup dari belas kasihan orang lain. Karena kemuliaan bukan diukur dari besarnya harta, melainkan dari cara seseorang meraih rezekinya. Rasulullah saw juga menanamkan prinsip bahwa bekerja bukan hanya sekadar mencari nafkah, melainkan ibadah. Selama usaha itu halal, meski hasilnya kecil, maka keberkahannya lebih besar daripada harta melimpah yang diperoleh dengan cara yang haram. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 105). Dari sinilah kita belajar bahwa langkah kecil dapat membuka pintu besar. Dengan modal sebuah kapak, lelaki miskin itu pergi ke pasar untuk menjual kayu bakar. Di pasar, ia bukan hanya menjual hasil usahanya, tetapi juga membangun relasi, bertemu orang-orang baru, membuka pintu interaksi yang bisa berkembang menjadi peluang lebih besar. Begitulah hukum kehidupan: ketika kita bergerak, maka kesempatan akan datang. Ketika kita bekerja keras, maka jalan menuju keberhasilan akan terbuka setahap demi setahap. Apalagi di era digitalisasi dan ekonomi kreatif saat ini, peluang untuk berusaha mandiri terbentang begitu luas. Kita tidak lagi harus memiliki toko fisik atau modal besar. Dengan sebuah ponsel dan ide sederhana, siapa pun bisa membuka jalan rezekinya: berdagang secara online, menjual makanan rumahan, menawarkan jasa, mengajar secara daring, atau bahkan membangun konten yang bermanfaat. Dunia digital ibarat pasar besar yang mempertemukan manusia dari berbagai penjuru, tempat relasi dan peluang dapat lahir setiap hari. Karena itu, jangan pernah malu untuk memulai dari bawah. Jangan gengsi melakukan hal kecil. Seperti lelaki Anshar yang memulai hidup barunya dengan kapak dan kayu bakar, kita pun bisa memulai dari langkah kecil, dari usaha sederhana, dari kemampuan yang ada pada diri kita hari ini. Siapa tahu, langkah kecil itu adalah tangga pertama menuju kesuksesan besar. Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka jangan hanya menunggu nasib berubah, tetapi mulailah bergerak. Mulailah dari yang kecil, dari yang sederhana, dari diri kita sendiri, dan mulai sekarang. Sebab setiap tangga kecil yang kita pijaki hari ini bisa menjadi jalan menuju keberhasilan besar di masa depan. Dan sesungguhnya, orang yang bersungguh-sungguh pasti akan menuai hasilnya, sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “Man jadda wajada”—siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Semoga kita semua menjadi bagian dari generasi yang kuat dalam iman, tangguh dalam usaha, dan jujur dalam penghasilan, sehingga hidup kita bukan hanya mulia di mata manusia, tetapi juga diridhai Allah SWT. (*) Wallahu a’lam.
22/08/2025 | Drs. H. Makmur, M.Ag Kepala Kankemenag Bandarlampung dan Dewan Pengawas BAZNAS Kota Bandar Lampung
Hak Asasi Manusia (HAM)  Dalam Perspektif Islam
Hak Asasi Manusia (HAM) Dalam Perspektif Islam
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang dimiliki oleh setiap manusia semenjak menjadi manusia, sepanjang manusia hidup, dari dalam kandungan hingga liang lahat. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak dasar manusia yang melekat, inheren dan include dalam substansi kemanusiaannya. Dalam perspektif Islam Hak Asasi Manusia (HAM) tujuan utamanya adalah memanusiakan manusia, kemashlahatan dan kesejahteraan umat/masyarakat, dalam artikulasinya Hak Asasi Manusia (HAM) agar tidak terdistorsi, tercederai atau minimal tidak terkontaminasi oleh kepentingan di luar nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan agung, maka mesti berlandaskan Maqashid Syariah (Tujuan diterapkannya Syariah) kepada umat manusia, yang juga bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan manusia. Agama Islam tidak hanya memandang Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai hak-hak individu belaka secara personal, namun juga relasinya dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan alam semesta, yang proses dan tujuan akhirnya adalah menjaga, merawat, melestarikan dan memakmurkan alam semesta (Khakifah Fiil Ardl), serta mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan. Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Islam tidak hanya sebatas konsep filosofis atau teoritis belaka yang melangit dan indah di dengungkan dalam ruang seminar dan lokakarya, namun juga konsep yang harus praksis membumi, menyentuh dan menginjak bumi serta nadinya dirasakan oleh umat manusia baik secara personal maupun komunal. Hak Asasi Manusia (HAM) sejatinya bersifat dan berlaku universal, artikulatif bagi setiap manusia secara setara dimanapun dan kapanpun, tidak dapat dicabut oleh siapapun. Keberadaan dan implementasinya harus dilindungi oleh perangkat hukum positif, baik oleh hukum nasional maupun hukum internasional. Islam sebagai agama universal dan komprehensif tentu memiliki nilai-nilai yang universal, termasuk dalam menjaga hak-hak manusia baik secara personal maupun komunal, dalam upayanya untuk memuliakan manusia. Allah Swt. memuliakan manusia sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an dalam surah Al-Isra ayat 70: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" (QS. Al Isra’: 70) Nabi Muhammad Saw. Menegaskan dalam sabdanya ketika khutbah pada hari Tasyriq, tentang kesetaraan manusia dan tidak diskriminasi; "Wahai sekalian manusia! Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu. Ingat! orang Arab tidak lebih mulia dibanding orang non-Arab, dan orang non-Arab tidak lebih mulia atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan". (HR. Imam Ahmad) Hak Asasi Manusia (HAM) dalam implementasinya mesti selaras dengan Al-Dharuriyat Al-Khams; Hifdzuddin, menjaga agama dalam pengertian konsistensi dalam keyakinan, ucapan, sikap dan praktek keseharian, serta kebebasan dalam beragama yang berarti negara memberikan jaminan berupa hak umat untuk mempertahankan agama dan kepercayaannya serta melarang pemaksaan suatu agama terhadap agama yang lain. Hifdzunnafs, menjaga diri sendiri dan diri orang lain, berarti memberikan jaminan hak setiap jiwa dan raga manusia apapun latar belakangnya untuk tumbuh dan berkembang dengan selayaknya manusia yang berkemanusiaan. Memastikan terciptanya rasa keadilan, pemenuhan kebutuhan dasar, lapangan pekerjaan, kebebasan dan keamanan, kebebasan dari penindasan. Hifdzulaql, menjaga, merawat dan mengembangkan akal sehat dan memaksimalkan fungsi dan perannya, berarti memberikan jaminan berupa terjaganya dan jaminan artikulasinya akal sehat ditengah masyarakat, serta kebebasan berpendapat dalam berbagai forum, majelis, mimbar dan ditengah masyarakat luas. Islam melarang bahan-bahan konsumtif yang potensial merusak akal sehat, seperti khamer dan variannya, narkoba dan turunannya, minuman beralkohol, minuman dan makanan yang merusak tubuh, yang membahayakan, yang menjijikkan, dan lain sebagainya. Islam juga memuji orang-orang yang senantiasa menggunakan akal sehatnya. Hifdzunnasl, menjaga keturunan dan menjaga kehormatan, adalah jaminan untuk setiap individu untuk perlindungan keberlangsungan keturunannya. Islam melarang seks bebas atau suka sama suka, perzinahan, perselingkuhan, LGBT dan lain sebagainya, karena bertentangan dengan landasan Syariah Islam. Hifdzulmal, menjaga harta, mencari harta yang halal, serta mentasharrufkan juga dengan cara dan tujuan yang dibenarkan, serta bertujuan untuk menjamin kepemilikan barang, properti, dan jasa, larangan perampasan hak milik orang lain seperti pencurian, korupsi, monopoli, dan lain sebagainya. Secara prinsip, kelima kebutuhan asasi (al-dharuriyat al-khams) di atas sangat relevan dan berjalan beriringan dengan prinsip hak asasi manusia (HAM). Hak-hak ini tentunya berlaku bagi setiap umat manusia, dengan menjamin kesetaraan, tidak adanya diskriminasi dalam hak-hak yang harusnya didapat karena suatu perbedaan ras, jenis kelamin, bahasa, warna kulit, madzhab, pendapat politik dan lain sebagainya.
20/08/2025 | Wakil Ketua 1 BAZNAS Kota Bandar Lampung